Melihat Quasi Experiment dari 2 Sisi

Melihat Quasi Experiment dari 2 Sisi

Ditulis oleh Herri Mulyono

Secara literasi, quasi berasar dari bahasa latin yang memiliki makna “seolah-olah” atau “hampir” (Oxford), maka Eksperimen Kuasi (quasi experiment) dilihat sebagai “seolah-olah eksperimen” atau “hampir eksperimen”. Pada dasarnya quasi-experiment hampir sama dengan experiment dimana pada quasi experiment terdapat pemberian perlakuan atau treatment dan pengukuran hasil perlakuan tersebut (Teddie, C., & Tashakkori, A., 2009). Namun Robson (1993) melihat quasi-experiment sebagai  bentuk sederhana dari experiment research dimana penyederhanaan tersebut tampak pada penyederhanaan tempat ataupun sampel pada penelitian. Penyederhanan experimental research ini juga dikenal dengan limited quantification atau kuantitatif terbatas (Seale, 2004, Spicer dalam Seale 2004) yang diartikan sebagai pembatasan lingkungan penelitian yang digunakan. Pemanfaatan sampel group yang tidak sama atau non equivalent group, atau mungkn benar-benar berbeda (tidak) dalam quasi-experiment design merupakan salah satu bentuk penyederhanaan dari pure-experiment approach (Cohen dan Manion, 1994). Dengan menggunakan dua sudut pandang pendekatan penelitian experiment dan mixed method, quasi experiment akan memperlihatkan kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Jika dilihat dari sisi implementasi experimental research, desain quasi-experiment kurang mendapat bobot yang tingi, atau sering dianggap lemah dilihat dari sisi persyaratan experiment yang banyak terpenuhi, dan dipandang tidak mampu dalam memberikan generalisasi terhadap hasil penelitian nantinya. Tentulah, penyederhanaan-penyederhanaan yang dilakukan atau sengaja di desain dalam model  quasi experiment ini dianggap subjektif karena memiliki tujuan-tujuan tertentu dari aktivitas penyederhanaan tersebut. Sebagai contoh, penggunaan kelas experiment (tanpa menggunakan pembanding, kelas kontrol — pada desain one-group) memunculkan argumentasi tersendiri. Bahwa ketika hasil diketahui memilik efek atau pengaruh tertentu terhadap sebuah perlakuan maka sulit untuk diterima, karena sesuatu dikatakan baik tentu jika ada pembanding buruk (yang dicontohkan pada kelas kontrol). Selain sampel yang khusus digunakan untuk perlakuan tertentu ketimbang taknik random yang umum digunakan dalam experimental research dengan tujuan generalisasi hasil nantinya, pilihan non-equivalent control atau kelas kontrol yang tidak ekivalen memberikan tendensi tersendiri yang memberikan keraguan atas faktor atau indikator lain yang mempengaruhi variabel penelitian. Masalah lainnya jika dipandang dari experiment approach adalah pada konteks validitas dari penelitian tersebut yang awal diragukan ( Campbell dan Stanly (1963), Bracht and Glass (1968) dalam Cohen dan Manion, 1994).

Namun, quasi experiment memiliki nilai yang tinggi dalam social research ketika pure-experiment design dipandang tidak praktis atau tidak etis untuk digunakan (Seale, 2004). Penggunaan desain quasi-experiment sangat berperan khususnya dalam menganalisa data yang diperoleh dari survey (Seale, 2004) atau skala (rating) tertentu. Hal terpenting dari nilai quasi experiment adalah bagaimana hasil analisa kuantiatif tersebut dapat menjadi informasi penting yang mendukung data kualiatatif atau sebaliknya dalam desain mixed approach (Creswell, J. W. , 2003; Teddie, C., & Tashakkori, A., 2009). Peran penting quasi-experiment dalam area penelitian sosial, khususnya dalam area pendidikan adalah ketika melihat manusia sebagai objek penelitian yang memiliki karakter-karakter tertentu yang jelas berbeda satu sama lain dan sulit untuk diukur presentasikan hanya dengan angka-angka.

Memutuskan untuk menggunakan model quasi-experiment sebagai metode penelitian dalam memcahkan sebuah masalah atau investigasi terrhadap suatu hal bisa menjadi alternatif yang menguntungkan. Namun, tidak selalu diambil cara termudah yaitu manakala random sampling tidak dapat dipenuhi atau faktor-faktor lain yang tidak bisa dipenuhi dalam experiment. Artinya, pemilihan tersebut harus didasarkan pada tujuan penelitian, yaitu apakah akan berhubungan dengan ranah sosial (pendidikan) dimana manusia menjadi dijadikan objek penelitian yang tidak bisa diukur “hanya dengan angka”.

Referensi:

Cohen, L., & Manion, L. (1994). Research methods in education (4th ed.). London ; New York: Routhledge.

Creswell, J. W. (2003). Research design : qualitative, quantitative, and mixed method approaches (2nd. ed.). Thousand Oaks, Calif. ; London: Sage Publications.

Seale, Clive. 2004. History of Qualitative Methods. Dalam Researching Society and Culture (Seale, Clive (eds)). London: Sage.

Spicer, Neil. 2004. Combining Qualitative and Quantitative Methods. Dalam Researching Society and Culture (Seale, Clive (eds)). London: Sage.

Robson, Colin. 1993. Real World Research. Oxford: Blackwell.

Teddie, C., & Tashakkori, A. (2009). Foundations of Mixed Method Research: Integrating Quantitative and Qualitative Approaches in the Social and Behavioral Sciences. California: SAGE.

Untuk mengutip:

Mulyono, Herri. 2012. Melihat Quasi Experiment dari 2 sisi. Terdapat di http://myenglish01.wordpress.com/2012/10/08/model-quantitative-resesarch-quasi-experiment/. diakses (tanggal, bulan, tahun)

—–

Jika posting ini bermanfaat bagi anda, silahkan di share melalui aplikasi social network yang tersedia dibawah ini.

About these ads

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers

%d bloggers like this: