Yakin hanya UN?

Yakin hanya UN?

Oleh Herri Mulyono

Sangat menarik sekali materi yang dibawakan oleh Bapak Marjohan M.Pd, Guru SMAN 3 Batusangkar dalam tulisannya: Mengukur Peringkat Pendidikan Berdasarkan Skor UN Sudah Kadaluarsa. Argumentasi yang diberikan oleh penulis cukup beralasan, namun dalam tulisan ini saya akan coba memberikan respon dalam perspektif efektivitas dan efisiensi pengukuran tingkat kualitas pendidikan terkait dengan materi tulisan tersebut.

Saya sangat sependapat bahwa pengukuran terhadap suatu hal harus selalu memperhatikan aspek-aspek yang mempengaruhi hal tersebut. Misalnya, dalam pengukuran harga barang A, seorang penjual akan memperlihatkan aspek kualitas, biaya produksi, biaya pemasaran serta keuntungan yang diperoleh dari penjualan barang tersebut. Atau ketika kita akan mengukur kualitas barang A, tentunya kita harus melihat antara lain: elemen-elemen yang terdapat pada barang tersebut, proses produksinya, biaya yang harus dikeluarkan, factor-faktor produksi dan pemasaran dan lain sebagainya yang kesemuanya memiliki hubungan sebab akibat satu dengan lainnya.

Terkait dengan kualitas pendidikan, pemerintah setidaknya telah menentukan standar minimal yang harus dipenuhi oleh sebuah system pendidikan di setiap pelosok daerah. Kita sangat mengenal standar nasional pendidikan ini karena setiap sekolah diwajibkan untuk memenuhi 8 standar yang telah ditentukan oleh pemerintah dalam PP No. 19 Tahun 2005. Delapan standar tersebut adalah standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Dengan memperhatikan 8 standar ini kita dapat melihat bahwa kualitas pendidikan kita diukur dalam dua hal: yaitu dalam kualitas maupun kuantitas. Dan kualitas pendidikan diukur dengan menggunakan 8 standar minimal tersebut.

Ketika menyinggung masalah Ujian Nasional, hampir sebagian besar dari kita sependapat bahwa penilaian atau pengukuran kualitas pendidikan sangat menekankan pada aspek kuantitas, yaitu hasil perolehan nilai siswa dalam ujian nasional. Tapi kemudian kita dihadapi dengan pertanyaan: “Apakah cara ini salah?” … Tahukah anda, bahwa Indonesia dikategorikan Negara dengan kualitas pendidikan yang rendah beberapa disebabkan oleh 1) Jumlah DOKTOR yang ada dan 2) Jumlah tulisan (buku) yang dihasilkan oleh para Doktor tersebut. Jelas, sebagian kita akan mencela hasil ini karena hasil penilaiannya masih sepihak pada kuantitas saja. Serta ilustrasi yang diberikan oleh penulis terhadap kualitas pendidikan dengan jumlah buku yang dimiliki dan dibaca siswa secara tidak langsung penulis juga sependapat bahwa kuantitas diperlukan dalam mengukur kualitas pendidikan. Dan telah dibuktikan, bahwa kualitas pendidikan salah satunya dapat di ukur dengan metode perhitungan kuantitas.

Walaupun memang, idealnya perhitungan kualitas juga harus diikut sertakan dalam penentuan tingkat kualitas pendidikan. Tapi saya yakin bahwa pemerintah punya instrument itu dan telah melaksanakannya. Hanya saja kita yang belum tahu, yang dengan ketidak tahuan itu kita secara mudah mengambil sebuah kesimpulan (walaupun masih diragukan) bahwa UN menjadi sebuah alat ukur kualitas pendidikan nasional. Benar bahwa UN dijadikan salah satu alat ukur, tapi bukan satu-satunya. Jika kemudian penulis memberikan alternative pengukuran berdasarkan ICT dengan contoh blogger. Hal ini boleh-boleh saja. Tapi yang harus diingat adalah kita sedang mengukur tingkat nasional. Artinya, standar juga harus belaku secara nasional. Pertanyaan kelanjutannya adalah: “Apakah semua daerah sudah memiliki kemampuan IT?” “Apakah semua guru telah memiliki kemampuan IT?” Jika anda berkeyakinan iya, mereka telah mampu dalam IT. Kemudian, dari mana anda mengetahuinya? Jika anda kemudian menggunakan fakta jumlah computer tiap sekolah, jumlah trafik internet tiap harinya, jumlah guru yang online dan lainnya, maka anda secara jelas melakukan perhitungan dengan metode kuantitas. Dan jika memang demikian, cara yang anda lakukan sama dengan yang dilakukan oleh pemeriantah dengan instrument UN nya.

Kembali kepada permasalahan pengukuran kualitas pendidikan dalam perspektif pengukuran kuantitas. Kita sangat memahami kekayaan ragam, luas dan jumlah penduduk yang besar dari Negara kita, Indonesia. Kita ingin mengukur secara ideal kualitas pendidikan tiap daerah sehingga bias dijadikan barometer kualitas pendidikan nasiona. Tapi kemudian kita dihadapi dengan kenyataan keterbatasan anggaran dan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pengukuran tersebut. Mungkinkah untuk melakukan pengukuran dengan desain kualitatif? Jawabannya mungkin, tapi kemudian efektif dan efisienkah desain tersebut untuk diaplikasikan? Jawabannya tidak karena jumlah populasi yang sangat besar, dan untuk melaksanakan perhitungan menyeluruh dengan menyertakan populasi yang sangat besar ini diperlukanlah desain kuantitatif, – UN adalah salah satu alatnya.

Jika kemudian masyarakat dikecewakan oleh kecurangan-kecurang an yang terjadi selama aktivitas UN, termasuk saya dan anda, maka kita harus lebih objektif menilai memberikan respon. Mari kita ambil sebuah ilustrasi, jika sebuah mobil kemudian salah satu ban-nya kemps, apa yang anda lakukan? Akankah anda membuang mobil tersebut? Jawabannya tentu tidak. Jika demikian, cara tersebutlah yang anda harus lakukan dalam melakukan penilaian terhadap kecurangan-kecurang an dalam UN. Pemerintah sebagai pelaksana kebijakan memiliki hak dan kewajiban dalam menentukan kualitas pendidikan nasional, dalan salah satunya dengan menggunakan instrument bernama UN.

Dalam pandangan saya, bukan hasil UN yang harus dipermasalahkan tetapi lebih pada bagaimana merespon hasil UN, apakah hasil UN dijadikan sebagai kunci mati kelulusan? Ataukah sebagai rekomendasi siswa pada Universitas yang akan dipilihnya? Atau menjadi sekedar barometer kualitas pendidikan tanpa harus melakukan justifikasi terhadap siswa “Lulus” atau “Tidak Lulus” serta “Pintar” atau “Bodoh”. Saya rasa inilah tugas penting yang harus dilakukan sebagai konsekuensi pelaksanaan UN. Tapi saya yakin mereka diatas sudah mengetahui, merencanakan dan melakukannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s