“Semalam dirumah Tuhan, …”

“Assalamualaikum, …”

“Walaikum salam,” jawab Tuhan dengan suara lembutNya…

Diantara sunyi malam Tuhan membuka pintu langitnya, ..

“Oh sayangKu, Raafi…” Tuhan lanjut menyapa, “Kemari sayang, masuklah..”

Aku ayunkan tubuh ini masuk, … jejak tapak kaki hinaku membekas disetiap langkah yang aku lewati

Tuhan duduk dengan indahnya diatas permadani syurga,…

“Duduklah…” pinta Tuhan

Aku pun duduk di sudut permadani itu, … terdiam seribu bahasa dengan muka tertunduk lemas..

“Lho, kenapa duduk disana sayangKu…”

“Kemarilah, mendekatlah kepadaKu,” Tuhan tersenyum manis..

Tak sanggup lagi aku memikul beban hidup,…

Aku bangkit berlari kencang menuju Tuhan…

Ku dekap Tuhan dengan eratnya… sangat erat, dan takkan aku biarkan dekapan itu lepas dari Tuhan…

“Tuhan… aku rindu Engkau,..” tangisku meledak malam itu, aku rebahkan kepala ini pada pundakNya yang Maha luas…

Tangisku kian menjadi…. “Tuhan, … aku rindu Engkau disisi ku,”

“Temani aku, wahai Tuhan..”

“Temani aku dalam bahtera hidup ini…”

Tuhan mengusapkan tanganya diatas rambutku, … perlahan Dia membelainya,…

Tuhan kemudian merangkulkan tangannya di tubuh hinaku ini… tentram rasanya..

“Aku pun menunggu kehadiran mu, wahai Raafi sayang…” Tuhan menyahut

“Rasa rinduKu seperti halnya musafir yang dicekik rasa haus dipadang pasir…”

“Aku menunggu kehadiranmu, sayangKu,….”

Tuhan kemudian memangku ku, dibelai diriku seperti bayi yang sedang bermanja kepada ibunya…

Air mata ini kian saja jatuh membasahi tangan Tuhan Yang Maha Lembut…

“Tuhan, bilakah hidup ini akan berakhir?” tanya ku kepada Tuhan

“Mengapa engkau berbicara demikian, wahai Raafi hambaKu tersayang?”

“Aku lelah Tuhan, … aku lelah dengan kehidupan”

“Aku lelah dengan keseharianku, … mengejar uang dan menghabiskan uang itu,… tanpa pernah merasakan indahnya menghabiskan uang dengan bahagian bersama dengan Engkau”

“Aku lelah dengan kemunafikan mereka, yang berbicara lembut didepanku kemudian menusukku dari tempat yang aku tidak pernah menyadarinya…”

“Aku lelah mencari kebahagiaan, … yang selalu saja berakhir dengan kesedihan…”

“Aku bosan… aku bosan dengan hidup…”

“Aku bosan mendapatkan keberhasilan, … yang tidak pernah bermuara pada kebahagiaan dan kebermanfaatan dari apa yang telah aku hasilkan”

“Aku bosan mendapatkan ketenaran, … yang kemudian menjadikan ku orang-orang yang hidup dalam topeng kemunafikan, …”

“Aku bosan memiliki harta yang banyak, … yang justru menyebabkan orang-orang itu bersikap baik karena harta yang aku miliki…”

“Aku bosan menjadi pandai, … yang hanya dituliskan pada kertas-kertas kepalsuan tidak berguna”

“Tuhan aku bosan… aku bosaaan!!!”

Malam sunyi itu terbelah dengan suaraku yang begitu keras…

“Tuhan, tolonglah hambaMu ini… jangan lepaskan aku malam ini dariMu.. biarkan aku hidup bersama Engkau selamaNya disini”

…..

Tuhan mengusapkan tangannya di keningku, … lembut dan sejuk rasanya…

Tuhan tersenyum, … dengan lembut Tuhan berkata:

“Sayang, dikala engkau mengejar uang, .. adakah engkau melihatKu??”

“… dan ketika engkau telah mendapatkan uang itu, … apakah ada namaKu dalam bibirmu?

“Dikala kesakitan, adakah engkau memanggilKu dan memintaKu untuk membantumu?”

“Dikala ketenaran datang kepada engkau, justru engkau telah merendahkanKu…”

“Ilmu yang engkau dapat bukanlah dariKu, … curang kau mendapatkannya, .. dan hanya untuk mereka engkau mengejar ilmu itu… sedikitpun engkau tidak melihatKu Yang Memiliki Ilmu”

“Raafi sayang, … tiap malam Aku menyebut namamu, ..”

“Aku utus ribuan malaikat ke tempat pembaringan engkau, mengusap keningmu agar engkau terbangun untuk menemuiKu…”

“Tapi engkau, … engkau acuh kepadaKu” …

Air mata Tuhan terjatuh, … diatas keningku terasa hangat….

“Dimana engkau sayang, ketika aku sangat merindui engkau untuk datang kepadaKu”

“Seandainya saja engkau sebut namaKu sekali, maka akan aku sebut namamu ribuan waktu”

“Seandainya saja engkau bangkit menyambutKu, maka Aku akan peluk engkau selama waktu berputar”

“Seandainya saja engkau berjalan mendekatiKu, maka Aku akan berlari mengejar rindumu”

“Seandainya saja engkau berlari, … maka Aku lebih cepat dari gerak langkahmu”

….

“Sayang, … tiap waktu berjalan dalam kerinduanKu terhadapmu, …”

“Aku ingin engkau dekati, … seperti mu yang mendekatiKu malam ini…”

“Raafi sayang, seandainya hatimu telah terbuka tempat untukKu, maka Aku akan bersemayam didalamnya, …. ya… bersemayam didalam hati-hati orang yang benar-benar mencintaiKu dengan setulusnya”

“Jika Aku telah berada didalamnya, maka langkahmu adalah langkahKu, dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaanKu, permintaanmu adalah hadiah dari Ku…”

Aku terdiam sesaat, ….

Ku pandang wajah Tuhan Yang Maha Indah, ….

Ya… senyum Tuhan… senyum Tuhan.., … aku melihatnya dengan hatiku,…

Aku bangkit, ku usap air mata Tuhan dipipiNya Yang Maha Bercahaya, …

lalu aku katakan:

“Tuhanku sayang, aku akan membuat engkau tersenyum selalu untukku”

Malam itu hanya ada aku dan Tuhan, …

Malam itu hanya milik kami berdua saja… Tuhan milikku…

—–
Jakarta, 27 April 2010
Diantara kesunyian malam,…
Untuk Raafi ku sayang, …

Herri Mulyono

4 thoughts on ““Semalam dirumah Tuhan, …”

  1. mf saya baru buka blog jenengan. siapakah raafi? apa putra jenengan? di umur jenengan yang masih muda, saya liat kebijaksanaan hidup ada pada diri jenengan. kesuksesanpun telah jenengan raih. semoga Alloh selalu memberikan perlindunganNya pada jenengan. karena ilmu dan pengalaman hidup yang telah anda dapatkan patut dibagikan kepada yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s