“Lihatlah kebawah untuk urusan dunia, dan pandanglah ke atas untuk urusan akherat?”: Kenyataanya tidak selalu seperti itu..

“Lihatlah kebawah untuk urusan dunia, dan pandanglah ke atas untuk urusan akherat?”: Kenyataanya tidak selalu seperti itu..

by Myenglish Uhamka on Friday, December 24, 2010 at 9:30pm

Sayangku, setidaknya demikian apa yang orang anjurkan untuk sebagai konsep ‘bersyukur.’ Dengan melihat kebawah untuk urusan dunia, kita akan dibawa kepada nuansa ‘syukur’ atau ‘terima kasih’ kepada Tuhan Yang telah memberikan kehidupan dunia ‘lebih baik’ dari orang-orang yang tidak mendapatkan hal yang sama (baik) seperti anugrah Tuhan kepada kita. Serta, dengan melihat ‘ke atas’ untuk urusan akhirat, kita akan dibawa kepada ‘motivasi’ untuk berbuat lebih baik dalam ibadah kepada Tuhan, dan kompetisi untuk memperoleh ‘ketaatan’ yang lebih kepada Tuhan.

Benar abi, banyak orang berpendapat demikian. Apakah itu salah?

Sayangku,

Nabi kita mengajarkan, bahwa ‘seandainya anak adam diberikah satu lembah emas, maka ia akan meminta lembah kedua yang penuh dengan emas, dan apabila didapatnya lembah kedua, maka ia akan meminta lembah ketiga yang penuh dengan emas pula. Demikian seterusnya…”

Nabi kita juga mengajarkan kepada kita, ‘carilah duniamu seakan akan kamu hidup selamanya, dan carilah akheratmu seakan-akan kamu akan mati esok.’

Tuhan menciptakan kita dengan sifat ‘serakah’ dan rasa ‘tidak pernah puas.’ Ia menghendaki kita untuk bersifat demikian; ‘serakah’ dan ‘tidak pernah puas.’ Lalu, apakah salah? TIDAK, sayangku. Tuhan tidak pernah menyalahkan dua sifat alami manusia itu, malah dengan kasih sayangNya Ia menurunkan penunjuk dalam KITAB yang mulia. Tuhan tidak pernah mengekang dua karunia tersebut pada manusia, tapi menunjukkannya kepada kebenaran. Lihatlah puasa yang diajarkan Nabi kita, bukan untuk membunuh hawa nafsu tapi mengendalikannya sehingga menjadi sebuah kebaikan.

Seandainya, ‘lihatlah kebawah untuk urusan duniamu’ adalah benar untuk bersyukur, maka dimana kebebasan untuk ‘serakah’ dan ‘tidak pernah puas’ tersebut berada? Dimana motivasi untuk ‘mencari kehidupan dunia untuk selama-lamanya’ terkuak? Bukankah hal ini kemudian menyalahi kodrat manusia itu sendiri? Jika kemudian ditekankan pada syukur bahwa kita diberikan kelebihan dari mereka yang penuh dengan penderitaan, namun ketika “kelebihan” baik potensi maupun harta yang diberikan Tuhan kepada kita menjadikan kita lebih “menyukuri” dan bergeliat untuk lebih baik, apakah hal ini juga tidak diartikan dengan ‘bersyukur’? Jika hal ini juga wujud ‘bersyukur’ maka juga lihatlah keatas untuk duniamu.

Harta? Kenapa harus harta?

Sayangku, kadang memang kondisinya harus demikian. Hal ini juga dialami sahabat-sahabat denga keluh kesah mereka, ‘wahai Rasulullah, sungguh tidak adil bahwa orang-orang kaya dapat masuk syurga dengan sedekah dari hartanya, bagaimana dengan kami?

Lihat bukan, orang yang ‘kaya’ cendrung bisa berbuat banyak dengan kekayaan yang dimilikinya. Serta, Tuhan mencintai ‘muslim yang kuat ketimbang muslim yang lemah.’ Secara tersirat, Tuhan juga lebih mencintai muslim yang ‘berharta’ ketimbang yang tidak. Harta adalah materi, bumi yang kita hidup padanya adalah juga materi, jasad kita (tubuh) juga materi. Artiya, kita hidup pada dunia materi, dan bukan berarti kita harus meninggalkan materi, tapi menggunakan materi (sebagai) alat untuk memperoleh cinta Tuhan.

Ah abi, untuk apa harta banyak kalau nanti banyak maksiat. Lihat si A, hartanya banyak tapi tidak barokah.

Sayangku, bagaimana kemudian kita balik pernyataannya. Memiliki harta yang banyak dan hamba yang taat. Lihat si B, hartanya banyak dan hidupnya penuh barokah.

Sebenarnya, hakekat permasalah bukan kepada harta, karena harta hanyalah alat saja, tergantung siapa yang menggunakan. Namun, siapa yang memiliki alat ‘lebih banyak’ ia akan mampu berbuat lebih banyak pula. Lihatlah sahabat-sahabat Nabi SAW, lihatlah begitu kaya dan dermawan mereka dalam hidupnya sehingga keberkahan Tuhan melekat kepada mereka dengan CintaNya yang abadi. Ingat, bahwa harta adalah alat, bukan tujuan.

Lalu bagaimana dengan akherat, haruskah melihat ke atas?

Sayangku, abi akan bercerita sedikit tentang dua orang kakak beradik.

Si kakak adalah seorang kaya yang mendapatkan kekayaannya dengan memiliki bisnis pelacuran, sedang si adik adalah seorang alim yang sederhana. Si adik tak henti-hentinya memberi tahu kepada kakak tercintanya bahwa ia dalam kemaksiatan dan menganjurkannya untuk bertobat. Omongan tentangga dan untaian hikmah adiknya menggugah hati si kakak untuk menjenguk adiknya. Disisi lain, si adik yang geram dengan kemaksiatan kakaknya ingin menemui si kakak di singgah sana mewahnya.

Sesampainya di rumah sang Kakak, si adik terpukau dengan rumah mewah dengan segala isinya. Hatinya bergumam dengan dunia yang ia tidak pernah lihat. Ia mengelilingi tiap ruang dengan lambaian serta rayuan wanita-wanita cantik didalamnya, “Duhai pemuda tampan datanglah kemari, berbaringlah dalam pelukan hangat kami.” Si adik terlena, Tuhan terlupa dalam nyanyian hatinya. Kakinya melangkah tiap anak tangga demi menjawab rayuan itu. Namun sungguh malang, beberapa langkah ia tiba, anak tangga yang dilaluinya patah sehingga si adik jatuh dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Ia menutup mata dalam menjawab kemaksiatan, jauh dari cinta Tuhan.

Disisi lain, si kakak kemudian mengayuhkan langkah menuju rumah si adik, sekedar ingin mendengarkan nasehat baik darinya. Si kakak rindu dengan kehangatan cinta Tuhan. Namun takdir berkata lain, dalam langkahnya kepada Cinta Tuhan, badai gurun pasir menghalaunya. Ia terhempas, kemudian menghela nafas terakhir dalam langkahnya mencari kehangatan kasih Tuhan.

Dari cerita diatas, haruskah si kakak melihat keatas kepada adiknya, seorang yang taat tapi dengan akhir yang buruk? Atau cukuplah ia dengan kehendak Tuhan pada dirinya, yaitu dengan akhir yang baik. Berbicara keimanan adalah berbicara cinta Tuhan. Berbicara tentang cinta Tuhan adalah berbicara sesuatu yang tidak sama karena pada hakekatnya manusia berbeda dan Tuhan pun memberikan kadar cinta yang berbeda-beda kepada setiap hambaNya. Perlakuan cinta Tuhan kepada abi berbeda dengan perlakuan cinta Tuhan kepada kamu, dan perlakuan cinta Tuhan kepadamu berbeda dengan perlakuan cinta Tuhan kepada yang lain.

Sayangku, pelajaran lain dari cerita diatas adalah … Tidak ada jaminan untuk ‘khusnul khotimah’ atau ‘baik pada akhirnya’ karena ‘khusnul khotimah’ hanya hadir sebagai jawaban Tuhan atas cinta seorang hamba. Si Hamba mencinta Tuhan, Tuhan pun memberikan CintaNya dengan member khusnul khotimah pada si Hamba. Bukan semata si hamba yang selalu be-ritual kepada Tuhan. Ini perkara CINTA, dan kadar cinta seseorang berbeda dengan orang lain. Semua bergantung kepada maqom (tempat) si Hamba di sisi Tuhan.

Abi, ‘khusnul khotimah’ atau pengakhiran yang baik itu tergantung prosesnya bukan?

Prosesnya?? Mungkin bisa dikatakan seperti itu, tapi … bagaimanakah dengan cerita Abu Tholib paman Nabi SAW, yang sehari-harinya bersama Nabi, mendengarkan khutbah dan ajakan Nabi, yang kehidupannya mendukung perbuatan Nabi. Ia menjalani kehidupan dunia didekat Nabi, dan ini merupakan sebuah proses yang sangat indah. Namun, Abu Tholib tidak menutup hidupnya dalam keimanan, sehingga dalam sedihnya Nabi mengatakan, “Neraka terendah adalah dimana Abu Tholib ditempatkan, yaitu dimana ia memakai terompah (alas kaki) maka mendidih otaknya.”

Lalu, … masih ingat kisah seorang wanita yang diseluruh hidupnya diabdikan untuk pelacuran. Hari-harinya berpindah dalam pelukan pria-pria nakal yang berbeda. Dimana kehidupannya dilalui dengan penuh kemaksiatan kepada Tuhan. Tapi, … lihat bagaimana Tuhan memperlakukan wanita itu ketika menutup umurnya. Ya, Tuhan menutup hidup wanita itu dengan kemuliaan syurga.

Lho, … kok bisa?

Tentu bisa, Tuhan rela memberi cintaNya kepada wanita itu demi menukar keikhlasannya memberi seteguk air kepada anjing yang sangat kehausan dibawah terik matahari. Lihatlah, wanita itu melalui hidupnya (proses) dengan penuh kebencian Tuhan. Tapi, ia menutup matanya dalam cinta Tuhan. Semuanya tidak selalu melalui proses yang baik kemudian menghasilkan sesuatu yang baik atau tidak. Berbicara khusnul khotimah, menurut abi, lebih membicarakan CINTA Tuhan kepada kita; yaitu apakah CINTA-Nya datang kepada kita atau tidak. Jika CINTA itu benar datang, maka benarlah hidup kita berakhir dengan kebaikan. Namun, apabila tidak? (Semoga Tuhan member kebaikan kepada kita)

Sayangku,

Jika dua nuansa ‘syukur’ dan ‘motivasi’ yang ingin diberikan, mengapa harus ‘tidak seimbang’ dan serasa ‘tidak adil’ antara dunia dan akherat. Jika kemudian dibalik, “Lihatlah keatas untuk urusan dunia, dan pandanglah ke bawah untuk urusan akherat?” bagaimana kemudian interpretasinya? Apakah interpretasi ‘Ya Tuhan jadikanlah aku orang kaya dan lebih kaya harta agar aku bisa lebih beribadah kepadamu’ dan ‘Ya Tuhan terima kasih tidak menjadikan aku seperti mereka yang penuh dengan kemaksiatan’ adalah interpretasi yang salah? Jika TIDAK, maka “lihatlah ke atas untuk urusan dunia” adalah tidak salah, dan “lihatlah kebawah untuk urusan akherat” juga hal yang benar.

Abi tidak hendak menganjurkan kamu untuk memilih satu diatara mereka. Ini adalah hak kamu untuk memilihnya. Isyarat ‘syukur’ dan ‘motivasi’ bukan untuk membenarkan satu hal dan merendahkan hal yang lain, ‘syukur’ dan ‘motivasi’ harus berimbang, dimana keduanya ada untuk saling mendukung satu sama lain. Namun, jika kehidupan akherat terkait erat dengan kodrat hamba (maqom) yang berbeda-beda satu sama lainnya dan hanya Tuhan saja Yang Mengetahui, maka ‘untuk urusan akherat jangan lihat kemana-mana, jangan lihat ke atas-kebawah, lihat diri; sudahkah ia patut dicinta oleh Yang Memiliki Cinta?

Jakarta, 20 December 2010

Sekedar sharing,

Herri

Note:

Kaya: kondisi dimana seseorang mampu mendapatkan sesuatu dengan apa yang dimilikinya (Jika kemudian kaya diartikan dengan punya harta yang banyak, ya.. hal ini juga benar adanya)

Miskin: kondisi dimana seseorang tidak mampu mendapatkan sesuatu karena hal yang ia tidak miliki

2 thoughts on ““Lihatlah kebawah untuk urusan dunia, dan pandanglah ke atas untuk urusan akherat?”: Kenyataanya tidak selalu seperti itu..

  1. “Lihatlah kebawah untuk urusan dunia, dan pandanglah ke atas untuk urusan akherat?”
    Maaf, sepertinya anda salah memahami kalimat tersebut. Anda menafsirkannya dengan terbalik.

  2. Sgala sesuatu juga ada sebab,,,,itu semua hanya hikayat tdk di dasarkan hadis,,,cerita abu tholib itu menggambarkan seorang nabi pun tdk bisa memberi hidayah ke seseoran,,,,jd klw menyimak keseluruhan kita masalah urusan akhirat diam saja krn sudah ada tempat ga usah ihtiar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s