“Kapan ya… bisa seperti itu?”

“Kapan ya… bisa seperti itu?”

by Myenglish Uhamka on Saturday, March 26, 2011 at 5:30pm

Dear Raafi sayang, ….

Sebelum pulang mengajar abi menyempatkan berdiskusi dengan beberapa ilmuan. Tentulah suasana yang terjadi bisa dibayangkan.. keberhasilan ini, keberhasilan itu, beasiswa yang didapat, pergi ke negara ini, pergi ke negara itu… dan, .. pasti terbesit cemburu bergelimang harapan… “Kapan ya… bisa seperti itu?”

Sepintas, pertanyaan itu adalah hal yang wajar dimana orang selalu menafsirkannya sebagai sebuah motivasi. Ya, benar. Sebuah motivasi yang membangun, yang memaksa kita keluar dari kemalasan yang selalu membelenggu. Benar juga, bahwa cemburu kita dengan “Kapan ya, … bisa seperti itu?” benar-benar memohok kita dengan keadaan kita yang lemah, atau dengan kondisi “kemiskinan” kita dan melihat “Kejayaan” orang dalam cerita yang kita dengar atau wajah yang kita lihat. Dengan begitu, kita jatuh pada “malu” dengan kondisi real yang kita dapati dan berjanji “hari esok adalah milik kita?”

Namun, beberapa lamunan abi dibangunkan dengan fakta bahwa “setiap pribadi adalah unik.”

Maksudnya bagaimana, abi?

Kita diciptakan Tuhan dengan segala keunikan yang ada diri kita. Unik bias diartika berbeda dengan ciri khas tertentu yang kita miliki. Kita harus menerima keunikan pada diri kita, dan oleh karena itu kita harus bisa menerima perbedaan yang ada. Maka wajar kalau kemudian kita diajarkan bahwa perbedaan itu pada hakekatnya adalah ramhat (kebaikan) pada kita. Serta, mereka yang menolak perbedaan itulah yang akan menimbulkan keburukan (atau setidaknya sakit hati).

Satu contoh yang dapat kita lihat adalah dalam urusan agama. Agama kita menganjurkan untuk mencari pasangan yang keturunannya (tingkat kekerabatannya) jauh. Artinya adalah agama menganjurkan kita untuk mencari pasangan yang tidak memiliki kedekatan, tidak memiliki kesamaan, atau dengan kata lain yang jauh berbeda dengan kita. Lalu, kenapa agama mengajarkan seperti itu? Jawabannya diulas oleh sains. Ditemukan bahwa dua varietas yang berbeda keunikannya akan memunculkan individu dengan tingkat unggul yang lebih dari induknya. Atau dengan kata lain, seorang anak yang lahir dari dua orang tua yang unik (jauh kekerabatannya) akan memiliki keunggulan (kecerdasan) lebih dari orang tuanya sendiri. Raafi lihat, hasil dari keunikan itu adalah rahmat (kebaikan).

Raafi sayang,

Jika kita lihat dari keunikan itu, maka tidak sewajarnya kita bercemburu pada kebaikan atau kelebihan orang lain yang nampak pada pandangan kita. Tidak juga kita bersedih ketika manusia didepan kita berjalan dengan kemewahan hartanya. Bersedih bukan jawabannya.

Sayang, mari kita bayangkan jika seseorang dengan ukuran sepatu 36, kemudian dia dibelikan sepatu ukuran 45. Sekarang Raafi bayangkan ketika dia mulai memakai sepatu itu? Apa yang terlihat?

Benar, tidak pantas. Tidak pada tempatnya. Yang timbul bukan kenyamanan bagi si pemakainya.

Begitupula sebaliknya ketika seseorang dengan berat 100Kg dibelikan baju dengan ukuran S, misalnya. Apa yang akan terlihat? Lucu bukan, si pemakai akan terasa sesak karena baju yang dipakainya terlalu sempit. Yang lebih parah, dia mungkin akan merasa sakit dan baju tersebut akan sobek.

Begitulah dunia yang ada pada pandangan kita. Terlihat indah ketika orang memakainya. Tapi, belum tentu juga dunia itu sesuai dengan diri kita. Mungkin disinilah Tuhan bermaksud, bahwa Ia menciptakan dunia bagi manusia dengan kadarnya. Tuhan tahu mana yang tepat bagi seseorang dan mana yang baik untuk orang lain. Karena keunikan Tuhan dalam ciptaanNya, Ia tidak memberikan hal yang sama bagi tiap hambanya. Mungkin sama terlihat, tapi akan berbeda rasa.

Baiklah abi bercerita sedikit.

Dahulu ada seseorang pada jaman Musa as. Karena kecemburuannya pada sahabat Musa yang kaya, ia memaksa Musa untuk berdoa kepada Tuhan agar ia diberikan kekayaan yang sama. Musa telah mengingatkan, tapi karena desakan ia tak kuasa untuk menolaknya. Musa bermunajat kepada Tuhan agar Ia memberikan kekayaan kepada sahabatnya itu.

Doanya terkabul. Sahabatnya itu kemudian mulai baik nasibnya. Emasnya mulai terkumpul. Mulai cincin di jemari, hingga menjulur permata dikaki. Tiap hari ia bertambah kaya. Hartanya kita bertumpuk sehingga kunci-kunci gudang kekayannya hanya dibisa dibawa dengan unta karena banyaknya. Namun kemudian ia bertambah lalai yang pada akhirnya Tuhan marah. Dan menenggelamkannya serta semua harta yang dimiliki itu kedalam perut bumi. Itulah Qorun, yang hartanya sering kita temukan dalam keseharian (Harta karun).

Sayang, …

Abi juga dulu berfikir seperti itu. Melihat Erwin sahabat abi yang kaya, dengan rumah yang megah dan mobil mewah abi sering berbisik dalam hati. Wah enaknya kalau punya rumah seperti ini, … mobil mewah yang nyaman tanpa harus kepanasan dan kehujanan. Namun pertanyaannya, apakah kita bisa amanah (menjaga diri dan harta) tersebut manakala ia dilimpahkan kepada kita? Tuhan Maha Berkehendak atas itu.

Raafi sayang ku,

Kita itu unik. Kita berbeda dengan manusia lain. Kamu pun berbeda dengan abi. Dan sungguh, Tuhan menyukai perbedaan dan memiliki maksud dibalik itu semua. Tuhan menciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk dan keadaan. Artinya, kondisi kita saat ini adalah terbaik dalam pandangan Tuhan. Kita boleh iri dengan kondisi orang lain, tapi bukan berarti kita menginginkan hal yang sama terjadi pada kita. Ketika orang lain “kaya harta”, bukan berarti kita juga harus kaya harta.

Abi menghipnotis lebih dari 200 orang. Dan hebatnya adalah, terbukti bahwa semua orang cerdas dengan keunikan tidak ada orang yang memiliki fungsi otak yang salah. Semuanya memiliki otak yang sangat indah dan cerdas. Lalu, kenapa mereka ada yang pintar dan bodoh?

Jawabannya adalah, mereka tidak tahu bahwa mereka memiliki harta yang sangat hebat dan tidak tahu cara menggunakannya. Dan karena ketidak tahuan inilah mereka tidak bisa menjadi yang terbaik untuk diri mereka sendiri. Mereka ingin menjadi seperti orang lain, tapi mereka tidak menyadari bahwa mereka berbeda dengan segala potensi yang dimilikinya.

Sayang,

Coba sekarang bayangkan. Raafi memiliki mobil Mercy, tapi karena tidak bisa mengendarai kamu hanya menggunakan sepeda. Lalu, bagaimana orang akan melihat kamu? Ya tetap saja pengendara sepeda yang dianggap sepele. Padahal, kamu punya mobil mahal yang luar biasa dirumah. Tapi karena ketidak mampuan kamu untuk mengendarainya, maka mobil yang luar biasa itu hanya ada di garasi tersebunyi dirumah. Begitu pula otak yang kita miliki.

Be yourself.

Artinya bagaimana abi?

Ya, jadilah diri kamu sendiri. Bukan berarti tiba-tiba kita langsung menemukan jati diri kita. Bukan seperti itu, sayangku. Keunikan orang lainlah yang menjadi inspirasi kita. Belajar dari orang lain merupakan salah satu jalan kita bisa menemukan jati diri kita, dan bukan berarti belajar untuk menjadi seperti orang itu. One cannot start by brand new star. Seseorang tidak bisa muncul dengan hal yang baru, begitulah dalam research diajarkan. Tapi dengan keunikan orang lain yang menjadi insipirasi bagi kita untuk membentuk keunikan khas diri kita. Dan itulah jati diri kita. Kita hidup di bumi yang sama, tapi dengan dunia yang berbeda.

Selamat menjadi pribadi unik sayangku, Raafi

Salam manis sore ini,

Jakarta 26 Maret 2011

Herri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s