Majelis Cinta, …

Majelis Cinta, …

by Myenglish Uhamka on Wednesday, February 23, 2011 at 1:59pm

Selangkah ku meninggalkan langit malam itu, Tuhan berpesan, “lewatilah istana dengan menara emas ketika engkau pulang nanti.”

Aku hanya mengangguk patuh perintah Tuhan.

Istana dengan menara emas? Aku berdiam sejenak, mencoba menarik ingatanku kuat-kuat tentang Istana dengan menara emas. Seingatku, tiap kali mengunjungi Tuhan, tiada pernah terlintas dalam pandanganku tentang Istana bermenara emas. Jika ada, dimanakah letaknya?

Aku buang cepat ingin tahuku tentang Istana bermenara emas itu, jika Tuhan memerintahkan ku untuk melintasi istana bermenara emas itu, pastilah tempat itu sangat istimewa. Namun, ketika aku hendak bertanya, Tuhan hanya tersenyum. Jari manisnya menyentuh bibirku seraya berkata: “Pulanglah sekarang, dan lewatilah istana itu.”

Ya, dalam penuh tanda Tanya aku membalikkan tubuh mungil itu. Tuhan hanya tersenyum dengan kesucianNya mengiringi setiap ayuh langkahku.

Aku menuruni langit dengan segala keindahannya. Berbeda dengan malam lainnya,saat ini mataku membelalak. Tiap detail pandanganku melekat pada setiap tempat yang aku lalui. Selintas, pandangaku terpesona pada sebuah istana berwarna putih gading. Dari kejauhan ku lihat istana itu bagai gunung dengan kilauan bak mentari yang sedang tersenyum. Megah dan sangat berkesan mewah. Desainnya sangat elegan. Istana itu memiliki gerbang sangat tinggi. Tapi, tampak gerbang itu terbuka lebar tanpa rasa khawatir si empu akan kehadiran tamu yang tidak diundang. Mungkinkah ini yang dipesan Tuhan saat itu? Tapi dimanakah menara emas itu?

Beberapa saat aku coba mengusir ingatanku akan menara emas, padanganku hanya tertuju pada istana putih itu, yang entah mengapa, begitu mengikat hatiku untuk singgah.

Aku memberhentikan langkah, perlahan ku dekati istana itu. Rasa kagumku menggiring jemari kecil ini untuk menyentuh dindingnya. Masya Allah, sangat lembut dan sangat bersih. Dinding istana itu benar-benar terbuat dari gading, dan putihnya dilapisi dengan lapisan berlian yang sangat indah. Maka wajarlah bila dari kejauhan mata memandang istana putih ini begitu berkilau-kilau bagai gunung permata.

Kaki lemah ini ku giring menuju gerbang istana. Namun, aku paksa ia berhenti disisi tak jauh dari muka gerbang istana. Ku dengar sayu suara tawa wanita. Iya, suara tawa, … namun diselingi dengan keseriusan. Jahatnya telinga ini kupaksa untuk mengendap, mencari darimana suara itu berasal.

Suara itu datang tak jauh dari gerbang, lima belas hasta kiranya dari pemberhentianku. Aku tidak bisa melihat jelas siapa yang berbicara. Gerbang instana tertutup oleh kain sutra terbaik yang sangat halus. Tapi, kedua mataku menangkap tiga wanita muda berparas cantik dengan wajah bersinar duduk melingkar dengan canda senyuman yang sungguh indah, semua berbaju putih bersih berkilau, namun perhiasan yang mengelilingi tiap helai tubuh mereka memancarkan warna sangat berbeda, hijau, kemerahan, dan keemasan. Wajah mereka yang bersinar bak mentari pagi membuat mataku sedikit remang, tak tahan kulihat pancaran sinarnya. Namun, jelas kuperhatikan tiap detail teras tempat mereka berkumpul …  Ketiga wanita cantik itu duduk diatas lantai, seperti teras rupanya. Lantainya terbuat kaca … dibawahnya mengalir sungai-sungai syurga seperti yang pernah dijanjikan Tuhan dalam suratnya. Dari sanalah suara tawa dalam keseriusan itu berasal.

Tiga wanita itu saling memuji satu sama lainnya. Mereka bercanda, tertawa dengan suara merdu teramat. Kiranya mereka dalam bahagia, mungkin sangat bahagia. Namun, kuperhatikan salah seorang diatara mulai bicara, dua lainnya terdiam dan memperhatikan tiap kata yang terujar. Beberapa kali mereka menyebutnya Bunda. Lalu, bunda siapa?  Siapakah gerangan wanita mulia itu, dengan helaian gaun putih berlapis emerald hijau berkilau? Sangat anggun …

Ketika salah seorang memanggilnya Bunda Khodijah, barulah aku mengerti siapa wanita mulia itu.

Lalu, diantara mereka terdapat wanita bergaun putih berlapis permata delima merah. Sungguh indah warnanya jauh melebihi bunga mawar yang sedang merekah. Beberapa mereka bersenandung, “duhai jantung Harung Ar Rasyid, khalifah Tuhan Yang Maha Gagah, berilah ia cinta melebihi malaikat suciMu.” Wanita cantik itu pun tertunduk malu, dalam senyumannya ia memuji Tuhan dengan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, …

Wanita muda terakhir lebih banyak diam. Dia banyak tersenyum, tapi tidak pernah berujar… kata-kata yang keluar hanyalah pujian dan syukur pada Tuhan. Tak jarang dia menitiskan air matanya pada gaun putih yang berselendang emas yang begitu indah. Tiap titisan air mata itu kuperhatikan jatuh menembus lantai kaca yang ia duduki. Jatuh menetes pada sungai-sungai yang airnya mengalir dengan suara pujian pada Tuhan. Tiap kali tetesan itu menyentuh air sungai, selalu terdengar gemuruh pujian pada Tuhan dengan harum semerbak menyelimuti seluruh Istana. “Aku memuji Tuhan dalam syukur abadiku, Ia telah menyelamatkan ku dari rumah itu, menghapus segala kehinaan yang kuterima dari tiap pelukan lelaki buta,” sedikit ia berbisik dengan linangan air mata.

Bunda Khodijah hanya tersenyum mesra. Ditatapnya dua wanita muda didepannya dengan seluruh rasa cinta. Ia kemudian berujar,

“Duhai jantung hati Harun Ar Rasyid, ceritakan kepada kami bagaimana Tuhan memperlakukanmu sehingga hari ini Ia memuji cintamu dan mengalungi akhirmu dengan seluruh kemuliaan.”

“Aku dengar engkau pernah menanggung rasa haus para jemaah yang sedang berhajji dengan seluruh hartamu. Engkau berikan air bagi ribuan yang dengan kehausan dalam perjalan suci berjumpa Tuhan.”

“Benarkah Tuhan memperlakukanmu dengan sangat baik pada hari ini atas seluruh pengorbananmu waktu itu?”

Wanita itu menangis kecil, diingatnya apa yang terjadi waktu haji itu. Ia arahkan tatapan malunya pada wanita mulia dihadapannya seraya berkata:

“Bundaku Khodijah wanita suci kecintaan Nabiku, ..”

“Benar apa yang telah engkau dengan dari para malaikat Tuhan waktu itu, …”

“Dengan seluruh harta yang Tuhan titipkan padaku, ku ambil seluruh air dari bumi Tuhan untuk menghilangkan dahaga para tamuNya di tanah haram.”

“Namun, bukanlah itu sebab cinta Tuhan jatuh kepadaku dan mengizinkanku tinggal ditempat maha suci ini.”

Bunda Khodijah tersentak, ia merangkaikan katanya dalam pertanyaan:

“Lalu, apa yang menyebabkan engkau mendapatkan cinta Tuhan Yang Maha Suci?”

Jatung hati Harun Ar Rasyid itu hanya tertunduk malu. Ia kemudian menjawab dengan suara sayu …

“Engkau mungkin tidak akan percaya, bahwa apa yang ku lakukan waktu itu tidak berbekas sedikitpun hingga hari ini.”

“Hanya kebiasaan yang tidak pernah terbanyang akan membuat Tuhan jatuh cinta pada diriku.”

“Yaitu, tiap kalanya aku terbangun diwaktu malam. Aku pandang Tuhan dari balik jendelaku. Kholifah Harun terbaring tidur diatas dadaku, namun detak jantungku memaksa rindu akan Tuhan ketika ku lihat bintang berkelap kelip menyambut tatapanku.”

“Malam itu, aku tidak banyak berkata, khawatir baginda Harun akan terbangun dengan suaraku… aku hanya berbisik memuji Tuhan dengan keMaha Agungan yang Ia miliki.”

“Aku sungguh tidak pernah mengira, …. Bahwa kemudian kebiasaan kecil itu membawaku kepada cinta Tuhan yang abadi, … hingga hari ini pujian pada Tuhan itu membawaku untuk bertemu engkau duhai sang cinta Nabi.”

Bunda Khodijah tersenyum lebar, kemudian bertasbih dan memuji Tuhan Yang Maha Mulia. Lalu, wajahnya ia tujukan pada wanita disebelah kirinya, wanita dengan gaun berlapis emas yang begitu memukau.

“Ceritakanlah kepada kami, bagaimana cinta Tuhan jatuh kepadamu hingga hari ini kami dapat berjumpa denganmu dalam majlis ini,” bunda bertanya.

“Bundaku, cinta suci Nabiku, aku adalah wanita hina. Ketika sahabat-sahabat Nabimu menaklukan dunia, maka hari-hariku tenggelam dalam nikmat dunia. Tubuhku adalah kenikmatan yang aku jajakan untuk tiap lelaki yang haus cinta buta.”

“Kamar-kamar yang engkau lihat itu adalah saksi bisu ketika mereka menikmati tubuhku.”

“Aku benar-benar menjatuhkan diriku sendiri dalam kehinaan.”

“Suatu ketika, ketika asa mencekik leherku.. ku paksa melangkah menjauhi takdirku sebagai wanita hina. Jauh aku berjalan hingga tubuhku terjatuh lemas karena tak ada lagi yang bisa aku makan, hanya beberapa teguk air yang masih tersisa dalam kantung kulit kambing yang ku bawa.”

“Aku terbaring dibawah terik yang memanggang tubuhku hidup-hidup.”

“Susah payah aku membuka air dalam kantung untuk mengusir dahaga yang kian mencekik leher, …”

“Namun, ketika aku hendak meminum air itu, kulihat tatapan mata seekor anjing yang tergulai lemas tak berdaya. Lidahnya menjulur keluar. Tidak ada tetes air liur dari mulutnya. Nafasnya terputus-putus.”

“Tatapan matanya tidak pernah tergeser sedikitpun dari kantung air yang hendak ku minum.”

“Berikan aku sedikit dari air itu,” anjing itu mengemis iba dalam tatapan matanya.

“Hatiku benar-benar iba melihatnya, ..”

“Perlahan aku merangkak menuju anjing itu dengan rasa cintaku pada makhluk Tuhan.”

“Perlahan aku teteskan air itu hingga matanya lidahnya bergerak kembali.”

“Seketika tetesan terakhir, kulihat tubuh anjing itu dapat bergerak …”

“Namun, ketika itu pula malaikat mencabut ruhku atas perintah Tuhan…”

“Dalam pertemuanku dengan Tuhan, Ia segera mandikan aku dengan air suci telaga kautsar. Dosa-dosaku berguguran sekejab dan tubuhku kembali suci dengan kecantikan cahayaNya.”

“Tuhan hanya berkata kepadaku, engkau telah menarik CintaKu, .. dan tinggallah disisiKu dengan seluruh Cinta dari Ku.”

“Bundaku, sungguh tidak pernah terlintas akan kenikmatan Tuhan pada hari ini. Tiada aku pernah berfikir bahwa hal kecil dengan keikhlasan yang aku lakukan akan mengembalikan seluruh kehormatanku.”

Bunda Khodijah dan Istri Harun Ar Rasyid bertasbih memuji Tuhan.

“Demikianlah Tuhan memperlakukan orang-orang yang memiliki cinta suci dalam setiap relung hati hambanya.”

“Dan inilah balasan bagi mereka yang menjadikan hati-hati mereka tempat Tuhan untuk bersemayam,” ujar bunda Khodjiah.

Aku tertunduk malu, …

Aku selalu berfikir hal-hal besar untuk mendapatkan cinta Tuhan. Namun, tidak pernah tersadar bahwa cinta Tuhan dapat lahir dari hal kecil yang penuh keikhlasan. Menara emas? Kini aku dapatkan jawabannya dimana menara emas itu, … yaitu ketika engkau telah membagun keteguhan cinta dalam hati, … maka disanalah menara emas itu berada, dalam sebuah istana bertahta berlian… istana hati kita.

Semoga bermanfaat,

Jakarta, 22 February 2011

Herri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s