Mungkin kita memang harus jadi peminta-minta, …

Mungkin kita memang harus jadi peminta-minta, …

by Myenglish Uhamka on Friday, December 31, 2010 at 2:49pm

Mungkin kita memang harus jadi peminta-minta, …

ih abi, kenapa berpikir seperti itu? Bukannya peminta-minta adalah hal yang hina

Sayang ku, memang pada hakekatnya kita memang peminta-minta, dan selayaknya kita menjadi seperti itu. Kita memang diciptakan sebagai peminta-minta, .. dan apabila hal seperti itu adalah hina, ya memang kita adalah makhluk yang hina

Sayang, …

Sudah beberapa hari ini abi merasakah kepenatan batin, .. sebabnya mudah, abi tidak pernah meminta-minta

Kadang kita merasa cukup, .. ya cukup harta, cukup untuk makan, sudah punya gaji sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan, dan lainnya… hal ini pula yang abi rasakan beberapa minggu terakhir, .. merasa cukup

Sebelumnya hari-hari abi lalui dengan was-was, .. ya benar, .. hidup dimulai dengan kekhawatiran; ‘dapat uang dari mana hari ini?’ ‘akan makan apa hari ini?’ ‘besok akan dapet uang dari mana lagi?’ Setiap hari seperti itu; ‘khawatir’ atau ‘takut-takut kalau… Hidup seperti tidak stabil, tidak tahu hari esok akan seperti apa sehingga tiap hari dipenuhi dengan pengharapan, permintaan, serta ketergantungan kepada Tuhan, “Ya Allah berilah hamba uang untuk bisa memulai hari” Begitulah hari abi mulai…

Namun, semuanya menjadi indah.. hari-hari benar abi gantungkan sepenuhnya kepada Tuhan, bahwa Tuhan tahu yang terbaik dan tidak akan membiarkan hambanya dalam kesedihan sedikitpun. Seperti Tuhan telah menjamin rejeki untuk burung-burung yang terbang mencari makan dipagi hari. Memang membuat jantung berdebar, … membuat diri menjadi takut, kalau-kalau hari ini tidak mendapat uang, kalau-kalau hari ini tidak ada jatah susu untuk diminum adik, dan lainnya.

Tapi mungkin Tuhan senang melihat abi seperti itu. Tuhan diatas sana senang melihat kita duduk tersimpuh, mendongak kepala ke langit seraya meminta-minta kepadaNya, Tuhan berilah kami rejeki. Tuhan senang apabila seorang hamba datang kepadanya tergopoh-gopoh demi penghambaan dan permintaan.. ya mungkin seperti itu tulis Tuhan, ‘iya kana’ budu, waiyya kanasta’in .. hanya pada  Tuhan kami menyembah dan hanya kepada Tuhan kami meminta…

Sayangku,

Ketika keperluan telah dicukupi, rumah telah dibangun, mobil telah dibeli, sekolah telah diluluskan .. lalu abi terdiam.. tidak lagi datang kepada Tuhan untuk meminta.. abi merasa cukup atas pemberian Tuhan, ‘alhamdulillah Tuhan telah mencukupkan’

Namun, Tuhan rupanya tidak rela. Bukan abi kemudian merasa nyaman dengan ketercukupan itu, .. malah hati terasa mati, hati terasa hampa, bahwa Tuhan kemudian menjauh..Bukan dunia merasa nyaman, tapi justru dunia merasa sempit. Dunia yang kita rasa cukup kemudian menjauh tanpa makna.

Rupanya, Tuhan tidak ingin ketergantungan pada dirinya ditukar dengan ketercukupan yang Ia berikan. Kita diuji sebenarnya dengan apa yang dinamakan ‘cukup’ atau ‘kehidupan yang stabil itu’

Sayangku,

Kita diciptakan dengan penuh kekurangan, tubuh kasat kita diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, tapi bukan dalam bentuk yang sesempurna-sempurnyanya, .. kita dhoif, kita penuh dengan kekurangan… kita hina karena kita memang dicipta penuh dengan kehinaan, untuk itulah kita harus bangun menuju pada kebaikan, menuju pada kesempurnaan, serta meraih apa yang dikata sebagai kemuliaan…

Karena kita dhoif, penuh dengan kekurangan, maka kita memang miskin. Atas dasar kemiskinan ini kita meminta. Tiap detik kita meminta kepada Tuhan dan karena inilah kita menjadi peminta-minta. Rasul mengatakan bahwa kita tidak akan pernah merasa puas dengan apa pemberian Tuhan hari ini dan ingin meminta lebih, dan atas ini pula kita meminta lebih kepada Tuhan untuk hari-hari yang kita lalui, kita meminta-minta karena memang hak kita untuk meminta…

Tuhan mengajarkan kita memang untuk menjadi peminta-minta, ‘ud uuni astajib lakum’ mintalah kepadaKu, maka aku akan penuhi permintaan itu…

Masih hangat rasanya cerita Sulaiman AS yang merasa cukup dengan harta pemberian Tuhan, lalu ia menemui Tuhan “Duhai Tuhan, biarlah aku yang menggantikan tugasMu untuk memberi makan tiap makhlukMu untuk satu hari saja”

“Baiklah,” Tuhan menjawab dengan senyum simpul

Seketika makanan telah dikumpulkan, Sulaiman AS memanggil seluruh makhluk dialam semesta untuk berkumpul mengambil rejeki untuk mereka satu persatu.

Tuhan kemudian memerintahkan seekor ikan kecil maju untuk pertama kali mengambil hak nya untuk makan.

Seketika, seekor ikan kecil itu melahap semua makanan yang telah disiapkan oleh Sualiman, tanpa sisa ia perlihatkan kepada Sulaiman

Sulaiman AS tersungkur malu kepada Tuhan, mohon ampun padanya bahwa ia telah bersikap angkuh mencoba mengambil posisi Tuhan.

Sayangku,

Kita diciptakan dengan penuh kekurangan, dan karena kekurangan itu kita meminta kepada Tuhan. Kita tidak boleh merasa cukup atas apa yang telah diberikan Tuhan, karena sering rasa cukup itu yang membawa kita jauh dari Tuhan..

Jika memang kita tidak puas dengan harta dan rejeki, … maka puaskan lah pencarian harta dan rejeki itu dengan Tuhan sebagai sumber dari harta yang kita cari.

Jika kita memang tidak puas dengan ilmu yang telah kita peroleh, maka datanglah kepada Tuhan yang ilmuNya tidak terbatas…

Kita serakah, kita peminta-minta, kita haus harta, .. karena kita tahu hanya Tuhan yang bisa menjawab keserakahan kita, hanya Tuhan yang bisa mencukupkan permintaan kita, dan hanya Tuhan yang bisa menjawab tiap harta yang kita minta.

Kita hina, … ya kita hina, .. jikalau keserakahan kita pada manusia,

kita hina, … ya kalau kita meminta-minta, mengemis-mengemis kepada manusia

Manusia yang kita temui tidak akan pernah menjawab keserakahan yang kita inginkan, harta yang kita perlukan, ilmu yang kita timba, .. karena manusia itu sendiri adalah makhluk yang lemah.. kenapa kita yang lemah bergantung kepada makhluk lemah pula.

Kita sering terlena dengan ‘kemapanan’ dan sering kita terbuai dengan ‘ketercukupan’ … ya, keduanya sering kita impikan.. Tapi ingat, Tuhan yang memiliki kemapanan dan ketercukupan yang kita cari. kalau ingin jujur, “Adakah waktu kita merasa AMAN dari TAKDIR TUHAN?”

Jika kita menjawab kita tidak akan pernah aman dari takdir Tuhan, maka ‘kemapanan’ dan ‘ketercukupan’ yang kita lihat dari tetangga-tetangga kita is just a bull shit!

Sekedar sharing, …

Jakarta, 31 Desember 2010

Dipenghujung tahun, sebagai renungan bagi yang merasa sudah mapan

Herri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s