Wajah-wajah yang dikenali, …

Wajah-wajah yang dikenali, ..

by Myenglish Uhamka on Wednesday, January 5, 2011 at 6:43am

Dalam salah satu bukuny Irfan Hamka menceritakan:

Setelah mengarungi lautan lebih dari 11 hari lamanya ke tanah suci tahun 1960an bersama ayahanda Buya Hamka, ada seseorang dari Betawi yang ikut bersamanya. Seketika kapal merapat, orang itu kemudian bersegera menuju kepada pintu kapal. Tangga kapal diturunkan. dilihat oleh orang itu seseorang dengan sorban putih bersih panjang. Bajunya gamis putihnya panjang menghulur ke tanah. Orang itu meloncat dari tangga seraya berkata:

“Ya syech, habib, akhirnya ane sampe juga ke tanah suci untuk berhaji”

Orang itu menciumi pipi serta tangan syech itu dengan semangat, air matanya mengucur tanda bahagia.

Irfan kemudian melanjutkan,

Seketika rombongan haji di jamu dalam peristirahatannya, barulah ia tahu bahwa syech yang ditemuinya di pelabuhan kapal adalah seorang buruh, … ya buruh kapal yang tugasnya mengangkat barang-barang bawaan jemaah haji.

“Pantes aja, masa ada habib bau nya apek kaya gitu,” gerutu si betawi.

Ha … ha .. ha…

Lucu bukan, Raafi sayang…

Beberapa saat lamanya abi menahan tawa, .. abi teringat banyak diantara kita yang sepertinya sama seperti si betawi itu, … atau tepatnya lebih melihat kepada pada penampilan seseorang dan terbuai dengan itu.

Lihat penampilan sih boleh-boleh saja, tapi kalau sampai tertipu atau terbuai dengan penampilan seseorang, itu yang menjadi petaka. Apalagi kalau hal ini sampai pada urusan agama, yaitu ketika kita melihat kesalihan seseorang pada penampilannya; ya, .. seperti berbaju koko, jubah, gamis, jilbab yang panjang, janggut dan lainnya… Karena, tidak semua bisa dinilai dari penampilan, apalagi masalah agama yang ujungnya harus berarah kepada akhlak yang mulia.

Sayang,

Pernah suatu ketika ada rombongan pengantar jenazah melintas di depan gang rumah teman abi,.. terhentak beberapa teman abi melihat jenazah yang tengah di usung orang kampung itu ramai diikuti makhluk ghaib berjubah putih, ramai-ramai makhluk ghaib itu bertasbih dan berdoa kepada Tuhan untuk si mayit itu.

Teman abi kemudian bertanya, siapakah gerangan yang meninggal itu.

Beberapa pelayat menjawab seperlunya, “ah korban narkoba..”

Tapi, kok terasa aneh seorang korban narkoba diikuti banyak malaikat yang bertasbih untuknya.

Rasa ingin tahu teman abi kemudian membawanya ke rumah si mayit korban narkoba tersebut.

Benar ia korban narkoba, … tapi … baktinya kepada ibunya sungguh luar biasa. Ia sangat santun dan patuh kepada sang bunda. Mungkin karena itu Tuhan berkasih sayang kepadanya.

Benar ia korban narkoba, .. dan narkoba itu telah merugikan jiwanya.. tapi lihat, ia tidak merugikan apapun pada lingkungan dekatnya. Ia tidak meninggalkan manfaat untuk dirinya, tapi ia tidak pula merugikan mereka yang ada disekitarnya. Mungkin karena itu pula ribuan malaikat mengantar jenazahnya, dan memintakan ampun kepada Tuhan atasnya.

Selang beberapa bulan setelah itu, beberapa warga menggotong jenazah melintas di depan rumah teman abi. Karena si mayit berasal dari gang sebelah, tentu teman abi kenal siapa dia. Dia adalah ustadz yang biasa memberikan ceramah kepada warga. Tapi ada hal yang aneh ketika keranda jenazah diangkat. Sedikit pelayat yang datang dan .. beda seperti si korban narkoba, tidak ada makhluk ghoib yang ikut bertasbih mengiringi jenazah beliau. Ustadz, .. ya itulah title yang dia sandand, tapi .. title, jubah, gamis, sorban ataupun khutbah yang ia bawakan tidak memberikan manfaat kepada beliau. Kenapa? Wallahu ‘alam, hanya Tuhan saja yang tahu.

“Simahum fii Wujuhihim Min Atsaris Sujud”

“Terlihat pada dahi mereka tanda-tanda sujud,” begitu  Tuhan menjelaskan dalam surat cintaNya.

Tanda-tanda dahi? Oooo, itu ya .. orang yang di dahinya ada hitam-hitam, itu lho tanda sujud,…

Sayang, jika ayat tersebut terjemahkan pada konteks zahir (yang nyata).. ya artinya seperti yang semua kita pahami, … bekas hitam pada dahi seseorang.

Sayang, kita memahami bahwa ucapan Nabi (al hadits) dan perilaku para sahabatnya selalu memberikan penjelasan setiap untaian firman Tuhan.

Jika memang ayat ini harus diartikan dengan tampilan zahiriyah atau sesuatu yang nyata, maka lihatlah pada al hadits dan perilaku sahabat, adakah hadits-hadits yang member penekanan atau menjelaskan betapa hitam dahi Rasulullah SAW karena beliau adalah orang yang paling rajin sujud pada Tuhannya. Atau adakah pengakuan para sahabat sendiri tentang betapa hitam dahi Abu Bakr, Umar, Utsman atau Ali yang benar-benar sudah dijamin syurga. Jawabannya, hampir tidak pernah abi temui yang berkaitan dengan itu.

Sayang,

Rupanya Tuhan memberikan makna lebih dari pengertian awam kita tentang dahi yang hitam itu. Tuhan mencoba memberitahu kepada kita bahwa mereka yang bersujud kepada Tuhan akan tampak atau mudah dikenali, bukan hanya dikenali oleh Tuhan tapi juga dikenali oleh manusia.

Abi tidak bisa menjelaskan bagaimana Tuhan mengenali hambanya, karena hal itu masih urusan Tuhan dan abi tidak bisa mengatakan siapa diantara kita yang dikenali oleh Tuhan. Tuhan mengenali hambaNya dengan kehendak Cinta dan KasihNya.

Lalu bagaimana orang yang bersujud dikenali oleh manusia? Jelas mereka yang ada tanda hitam di dahinya mudah dikenali dari mereka yang tidak punya tanda itu.

Sayang, apakah setiap orang yang bersujud selalu memiliki tanda hitam di dahinya dan dapat dilihat secara kasat mata? Jika jawabannya IYA, lalu bagaimana kita menghakimi mereka yang tidak memiliki tanda hitam itu TIDAK BERSUJUD pada Tuhan? Seseorang yang bersujud (dalam sholat) pada sejadah biasa (atau sedikit kasar alasnya) dengan sejadah yang lembut, tentunya akan memberikan dampak berbeda pada dahi mereka.

Sayangku,

Sujud merupakan bentuk ketundukan. Jika masyarakat Jepang membukuk tanda patuh, maka Tuhan mau hambanya lebih dari itu, bersujud. Serta, Tuhan melarang kita untuk bersujud selain kepadaNya. Artinya adalah kepatuhan, ketundukan, dan kepasrahan hanya kita serahkan kepada Tuhan.

Jika sujud merupakan ketundukan dan kepatuhan atas perintah Tuhan, dan perintah Tuhan adalah kebaikan, maka sujud merupakan tanda kepatuhan atau  ketundukan kepada setiap bentuk kebaikan. Dan, Rasul mengatakan, ‘sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada orang lain’ atau dapat dikatakan sebaik-baik sujud adalah sebaik-baik kita membawa kebaikan dan manfaat bagi diri kita, orang lain, lingkungan ataupun makhluk dan alam dimana kita tinggal.

Contohnya, Tuhan memerintahkan pertemuan lima kali kepadaNya dengan waktu-waktu yang telah ditentukan; subuh, dzuhur, ‘asar, magrib dan isya. Tuhan telah memerintahkan disiplin waktu dalam pertemuannya. Atau, Tuhan mengajarkan untuk berdisiplin salah satunya adalah dalam hal waktu. Hal ini berarti berdisiplin waktu adalah perintah Tuhan, perintah untuk kebaikan, dan mereka yang melakukannya adalah mematuhi perintah Tuhan dan patuh pada kebaikan, atau patuh untuk ber-SUJUD.

Sayang cobalah lihat orang-orang disekitar kamu, perhatikan kedisiplinan dalam waktu dari masing-masing mereka. Apakah kamu dapat melihat mereka yang datang tepat waktu (disiplin waktu)? Dapatkah kamu membedakan mereka yang on-time dengan mereka yang selalu terlambat? Pasti jawabannya DAPAT DIBEDAKAN. Karena apa? Ya karena jelas terlihat mereka yang tepat waktu dan mereka yang sering terlena dengan datang terlambat. Artinya, jelas mereka yang patuh pada kebaikan untuk berdisplin waktu dan mereka yang melalaikannya. Serta, jelas terlihat siapa mereka yang SUJUD (dengan on-time) dan mereka yang tidak. Jelas terlihat siapa-siapa (wajah-wajah) yang SUJUD dan siapa yang tidak.

Abi, disekolah ada lho anak ROHIS, sholatnya rajin sekali, puasa senin kamisnya jalan, … tapi kok sering bangun telat alasannya karena Tahajjud, dan kalo rapat telat sampai satu jam. Apalagi kalau urusan PR, sering ga ngerjain.

Bagaimana abi?

Setelah qiyamulail beberapa tahun silam, seorang ulama memberikan tausiahnya bahwa karakteristik sahabat Nabi, bahwa dimalam hari mereka bagaikan Rabi yang selalu menangis dalam perjumpaan dengan Tuhannya, dan disiang hari mereka bagaikan singa-singa yang meraung ganasnya. Artinya, mereka memanfaatkan malam untuk ibadah khusyu pada Tuhan dan siang harinya khusyu’ member manfaat pada diri, manusia, dan kehidupannya.

Lalu, bagaimana mereka member manfaat kalau mereka saja sering bangun siang (telat bangun). ‘Rejekinya sudah di caplok ayam,’ kata orang betawi dulu.

Agama adalah kebaikan, dan kebaikan itu ada pada akhlak.

Sayang, tidak usah kita permasalahkan hal tersebut diatas, sebagaimana Buya Hamka pernah memberikan nasihat, ‘bagaimana kalau dirubah’ rajin sholat, puasa senin kami, sering tahajjud, dan selalu on-time?

Sayang, orang yang SUJUD selalu akan terlihat pada wajah-wajah mereka. Orang-orang yang SUJUD akan mudah dikenali, karena keberadaan mereka akan memberikan manfaat pada diri, manusia dan alam, bukan sekedar tanda hitam di dahi.

Selamat ber-SUJUD,

Jakarta, 5 Januari 2011

Abi Herri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s