Filosofi “Bau”

Ketika memasak, kita diajarkan untuk memperhatikan “asap/bau” dari masakan yang timbul, sehingga kita berhati-hati untuk menjaga bila bau tersebut mengganggu mereka yang merasa lapar dan menawarkan sedikit dari yang kita masak tersebut untuk menyenangkan dan membahagiakan. Filosofi “bau” tersebut kian berkembang, dan menjelajah dunia maya dalam transformasi foto-foto ataupun kalimat yang diunggah, yang sering kali “memberikan bau” yang benar-benar menggoda.

Jika dalam tradisionalnya “bau masakan yang tercipta dari apa yang kita masak” memunculkan sebuah nasihat untuk memberikan/menawarkan tetangga yang menciumnya, .. lalu, bagaimana dengan “bau” yang tercipta dalam kehidupan maya ini? Anis Bawesdan pernah bernasihat untuk mengupload foto-foto keberhasilan yang bisa melahirkan motivasi berkarya sebagai bentuk “tawaran masakan dari bau yang tercipta pada dunia maya”.

Seandainya, tetangga kita meminta haknya karena mencium “bau” dari masakan “yang ter/di unggah” pada beranda akun kita, bagaimana kita harus memberikan sebagian dari hak-nya itu?

-HM York, 14 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s