Memberantas buta informasi

Memberantas buta informasi[1]

<<Klik disini untuk Download full PDF artikel ini>>

Oleh: Herri Mulyono

Data Kominfo tahun 2014 mencatat Indonesia sebagai pengguna internet peringkat kedelapan terbesar di dunia dengan total 82 juta pengguna. Khususnya pengguna media social, beberapa sumber menjelaskan bahwa 69 juta penduduk Indonesia memiliki akun Facebook aktif dengan lebih dari 30 juta jiwa pengguna Twitter. Tak ayal lagi, banyak media cetak maupun daring (online) ikut berpartisipasi dengan turut membuka akun di jejaring social raksasa tersebut. Tujuannya sangat jelas: meningkatkan jumlah pembaca. Dengan tujuan inilah website media daring mulai melengkapi fasilitas berbagi yang memungkinkan pembacanya terkoneksi dan berinteraksi langsung melalui akun Facebook atau Twitter. Fasilitas Like dan share pada Facebook atau Retweet pada twitter serta fasilitas jenis lainnya memberikan beragam kemudahan baik bagi pengelola media maupun masyarakat, dalam akses dan penyebaran informasi. Sehingga sangat memungkinkan bahwa sebuah informasi dapat tersebar ke pelosok tanah air hanya dalam hitungan menit saja.

Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi dalam satu sisi menguntungkan masyarakat khususnya dalam hal kemudahan akses informasi. Dalam hal penyaring informasi, jejaring social juga digunakan sebagai alat untuk menyaring informasi yang berkembang sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengenali trend informasi. Namun disisi lainnya, kemudahan tersebut tidak sebanding dengan filter kebenaran informasi atau berita yang dibaca dan dibagikan. Akibatnya, isu tentang kebenaran sebuah informasi atau berita yang dibagikan oleh Netizen (pengguna internet) menjadi kekhawatiran tersendiri. Seringkali kebenaran sebuah berita tidak lagi ditentukan dari fakta dilapangan, tetapi justru sangat bergantung pada seberapa banyak berita tersebut dibagi oleh sesama Netizen melalui jejaring sosial. Sebuah berita palsu (hoax) dapat diyakini kebenarannya bila terus dibagi secara daring. Terlebih lagi ulah sebagian Netizen yang memodifikasi judul berita serta penggunaan gambar yang cenderung provokatif. Akibatnya seringkali sebuah berita berakhir dengan polemic dimasyarakat. Seperti terjadi pada berita-berita politik dan pemerintahan. Hanya berbekal judul dan sekilas tentang deskripsi berita Netizen cenderung bersikap reaktif dengan segera berkomentar dan berbagi. Tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu.

Perilaku berbagi berita tanpa memperhatikan karakteristik media dan informasi mengindikasikan fenomena buta informasi dikalangan masyarkat kita. Dan fenomena ini harus segera diatasi. Bila tidak polemic akan selalu terjadi dan sangat berpotensi terjadinya disintegrasi dalam kehidupan social bermasyarakat dan berbangsa. Terlebih terkait informasi yang berkaitan dengan SARA.

Istilah buta informasi atau illeterasi informasi secara tradisional diartikan sebagai ketidakmampuan untuk mengakses informasi. Namun dalam masyarakat modern, buta informasi diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang tidak mampu untuk memilah, memahami dan mengevaluasi informasi yang ada. Dengan kata lain, seorang dengan buta informasi tidak memilki kemampuan untuk menggunakan berinformasi secara bijak sehingga sering memberikan informasi yang sepotong-sepotong yang pada akhirnya menimbulkan salah paham.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberantas buta informasi di masyarakat. Pertama, memberi informasi tentang karakteristik media yang menyajikan informasi atau berita. Tujuannya adalah supaya masyarakat dapat menyaring media mana yang menurut mereka dapat dipercaya. Sehingga masyarakat tidak terjebak pada arus utama pemberitaan media (media mainstream). Beberapa hal mempengaruhi keterpercayaan media diantaranya kejelasan tim dan alamat redaksi (editorial) serta integritas media dalam memberikan informasi. Penggunaan tata Bahasa serta ejaan yang baik dan benar dalam pemberitaan juga dapat dijadikan penilaian terhadap kualitas sebuah media. Termasuk juga blog sebagai media berbagi informasi yang bersifat personal. Kejelasan tentang pemilik blog berperan penting dalam meyakinkan pembaca atas informasi yang diberikan selain juga isi posting yang tidak semata-mata copy-paste dari sebuah sumber berita daring lainnya.

Kedua, mengajarkan sikap dewasa berinformasi antara lain bersikap objektif dalam menilai sebuah pemberitaan tanpa emosi. Sikap dewasa berinformasi juga mencakup tata cara mengkritik yang santun. Sehingga penggunaan Bahasa yang mengandung unsur bullying dan menimbulkan ekses negative cenderung dapat dihindari.

Ketiga, pendidikan literasi informasi yang terintegrasi dengan kurikulum sekolah ataupun di universitas. Pendidikan literasi informasi telah diberikan di sekolah-sekolah negara maju, khususnya dalam mempersiapkan generasi yang mampu menggunakan informasi secara tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam bermasyarakat. Di Skotlandia misalnya, pendidikan literasi informasi bertujuan untuk membantu siswa mengatasi masalah informasi yang berlebihan (overload), penggunaan internet yang tidak bijak, memahami dan mengevaluasi informasi, serta menjaga keseimbangan interaksi social di dunia maya dan kehidupan yang nyata. Di level universitas, pendidikan literasi informasi difokuskan pada kemampuan berpikir kritis (critical thinking).

Melalui pendidikan literasi informasi ini diharapkan dapat mengikis fenomena saling berbagi informasi atau pemberitaan yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Kedepannya, masyarakat khususnya Netizen dapat berlaku dewasa terhadap media dan informasi. Dengan memilih, memahami, dan mengevaluasi karakteristik media dan informasi secara baik, maka masyarakat kemudian dapat secara bijak menentukan sebuah keputusan untuk berbagi atau tidak. Dengan demikian, sebuah informasi palsu dan berpotensi memberi pengaruh negative akan dapat hilang dengan sendirinya.

[1] Artikel opini, Sumber: Harian Kabar Priangan, 9 Januari 2015, tersedia pada http://www.kabar-priangan.com/news/detail/16178

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s