“… berhenti sebelum kenyang”

“… berhenti sebelum kenyang” selain dari tinjauan medis untuk mejaga kesehatan, rupanya memiliki filosofi yang sangat tinggi.

“Berhenti sebelum kenyang” direfleksikan dari kehidupan Fir’aun. Firaun adalah produk “terbaik” yang kenyang atas semua hal: fisik, ilmu, kekayaan dan wanita; yang kemudian menempatkan dirinya menjadi “sumber segalanya” karena tidak tersaingi. “Merasa cukup, merasa mapan, merasa aman” adalah sebuah awal dari kemalasan yang sangat potensial, dan bentuk penciptaan diri sebagai Tuhan, seperti yang dahulu diperbuat fir’aun yang kemudian menjadikan sombong, angkuh dan menzolimi (karena kekuatan/”kenyang”) yang perolehnya.

“… berhenti sebelum kenyang” merupakan refleksi “kesadaran/mawas diri” dari “kelaparan dan kekenyangan” untuk menjadi diri yang lebih baik, dan yang lebih bermanfaat.

-HM York, 13 Mei 2013

Advertisements

Filosofi “Bau”

Ketika memasak, kita diajarkan untuk memperhatikan “asap/bau” dari masakan yang timbul, sehingga kita berhati-hati untuk menjaga bila bau tersebut mengganggu mereka yang merasa lapar dan menawarkan sedikit dari yang kita masak tersebut untuk menyenangkan dan membahagiakan. Filosofi “bau” tersebut kian berkembang, dan menjelajah dunia maya dalam transformasi foto-foto ataupun kalimat yang diunggah,¬†yang sering kali “memberikan bau” yang benar-benar menggoda.

Jika dalam tradisionalnya “bau masakan yang tercipta dari apa yang kita masak” memunculkan sebuah nasihat untuk memberikan/menawarkan tetangga yang menciumnya, .. lalu, bagaimana dengan “bau” yang tercipta dalam kehidupan maya ini? Anis Bawesdan pernah bernasihat untuk mengupload foto-foto keberhasilan yang bisa melahirkan motivasi berkarya sebagai bentuk “tawaran masakan dari bau yang tercipta pada dunia maya”.

Seandainya, tetangga kita meminta haknya karena mencium “bau” dari masakan “yang ter/di unggah” pada beranda akun kita, bagaimana kita harus memberikan sebagian dari hak-nya itu?

-HM York, 14 Mei 2013