Perlukah Ujian Nasional Online?

Perlukah Ujian Nasional Online?

klik disini untuk Download Pdf 

Oleh: Herri Mulyono

 

Jangankan berbicara tentang fasilitas TIK yang modern, banyak sekolah di tanah air masih berjuang untuk mendapatkan akses listrik sekedar untuk penerangan

Tidak lama lagi perhelatan besar bernama Ujian Nasional (UN) akan segera dilakukan serentak di sekolah seluruh tanah air. Walaupun tidak lagi menjadi penentu kelulusan, kredibilitas pemerintah khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dipertaruhkan. Khususnya dalam penyelenggaraan UN yang bebas dari kecurangan. Salah satu alternatif yang digadang-gadang pemerintah adalah melalui penyelenggaraan UN secara online, atau ujian berbasis komputer.

Penjajakan pemerintah terhadap kemungkinan pelaksanaan UN secara online gencar dilakukan melalui proyek piloting di beberapa sekolah di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan kota lainnya. Bagi sekolah, piloting UN online merupakan bentuk prestise serta “unjuk gigi” tentang kualitas sarana dan prasarana TIK (teknologi informasi komunikasi) yang ada. Wajar saja demi prestise tersebut sekolah yang ditunjuk mulai melakukan pembenahan terhadap kualitas infrastruktur yang ada, serta melatih calon operator dan tenaga administrasi ujian online. Tentunya agar tidak ada masalah dalam pelaksanaan ujian online.

Efektivitas

Pemanfaatan komputer sebagai alat tes memberikan banyak keuntungan, terutama dalam kemudahan administrasi, efektivitas penilaian, dan yang pasti terkait efektivitas biaya.  Selain dapat memberikan motivasi kepada siswa, UN online juga dilihat dapat mencegah kebocoran dan menghindari beragamkecurangan dalam pelaksanaannya. Sehingga melalui UN online dapat diperoleh hasil ujian yang dapat dipercaya.

Namun, pemanfaatan komputer sebagai media ujian di sekolah tidak melulu lebih baik dibandingkan dengan ujian konvensional menggunakan kertas. Selain radiasi komputer yang berdampak pada kelelahan mata dalam membaca soal, ujian berbasis komputer ternyata memiliki kompleksitas tinggi yang tidak hanya bergantung kepada infrastruktur. Bila tidak ditangani dengan baik, penggunaan komputer tidak lebih efektif atau bahkan dapat berdampak negatif dibandingkan dengan cara yang konvensional, baik dalam proses pelaksanaannya maupun terkait dengan hasil ujian.

Dalam kualitas hasil ujian misalnya,hasil penelitian Jeong (2014) memperlihatkan bahwa nilai ujian siswa Korea yang menggunakan cara konvensional dengan kertas ternyata lebih baik dibandingkan dengan siswa yang menggunakan komputer. Padahal, dibandingkan dengan siswa di tanah air, siswa Korea memiliki tingkat kedekatan dan literasi teknologi yang jauh lebih tinggi seperti pada komputer, internet, dan perangkat TIK lainnya.

Belajar dari kasus di Korea ini, pemerintah harus melihat bahwa pada hakekatnya ujian berbasis komputer tidak hanya berbicara tentang instruksi, soal, dan bagaimana cara siswa menjawab melalui perangkat komputer. Tetapi juga bagaimana interaksi antara siswa pengguna dan komputer dapat dijaga melalui desain komputer yang interaktif serta ramah/mudah. Selain itu, guru juga harus memiliki pemahaman yang baik tentang sistem dan prosedur ujian berbasis komputer. Sikap dan perhatian guru terhadap urgensi pembelajaran berbasis teknologi menjadi faktor penentu terhadap pilihan, aplikasi serta keberhasilan ujian berbasis komputer.

Dalam hal proses pembelajaran, penggunaan komputer sebagai alat ujian tidak bisa muncul begitu saja pada tahap evaluasi. Tetapi, terintegrasi pada sistem pembelajaran digital yang telah dilakukan di ruang kelas. Artinya, guru dan siswa harus sudah menggunakan perangkat teknologi dalam proses pembelajaran. Jika dalam proses pembelajaran perangkat TIK seperti komputer belum digunakan untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar, maka akan sangat sulit untuk memprediksi keberhasilan dari penggunaan TIK sebagai alat ujian seperti UN online.

Infrastruktur

Sudah menjadi rahasia umum bahwa terdapat ketimpangan teknologi di sekolah-sekolah di tanah air. Fasilitas TIK di kota-kota besar cukup memadai seperti ketersediaan komputer, laptop, LCD projector, ruang atau laboratorium multimedia sampai papan tulis elektronik. Namun, kesiapan dan kondisi perangkat TIK yang ada di sekolah di daerah terpencil akan menjadi tantangan berat bila pemerintah tetap bersikeras menjalankan UN secara online.

Bukan hanya keterbatasan jumlah komputer tetap yang lebih memprihatinkan adalahpasokan listrik yang sering bermasalah atau bahkan tidak ada sama sekali. Jangankan berbicara tentang fasilitas TIK yang modern, banyak sekolah di tanah air masih berjuang untuk mendapatkan akses listrik sekedar untuk penerangan. Kondisi inimemunculkan rasa skeptis terhadap pelaksanaan ujian nasional secara online.

Pemanfaatan TIK untuk ujian online sebenarnya bukan hal yang baru di dunia pendidikan tanah air. Ujian online dalam dunia pendidikan tanah air telah digunakan secara massive dalam ujian kompetensi guru (UKG) beberapa waktu lalu. Sayangnya, UKG yang menghabiskan dana miliaran rupiah tersebut penuh masalah dan tidak jauh lebih baik dari ujian konvensional. Misalnya, layout soal ujian yang tidak ada gambarnya karena permasalahan dalam sistem komputer. Juga jaringan komputer yang sering bermasalah ketika koneksi internet.

Akibatnya, UKG online yang direncanakan serentak harus dilaksanakan berdasarkan kesiapan dari masing-masing dinas pendidikan daerah. Beragam permasalahan inilah yang kemudian berdampak pada kondisi psikologis peserta ujian seperti berkurangnya motivasi, keraguan dalam pelaksanaan ujian, serta sampai pada tingkat depresi.

Bila pemerintah serius untuk melaksanakan ujian nasional secara online, maka pemerintah perlu menjamin ketersediaan infrastruktur yang mendukung. Bila pembelajaran di sekolah belum terintegrasi TIK dan infrastruktur yang ada tidak berfungsi dengan baik, maka ujian nasional secara online tidak akan mampu merefleksikan hasil belajar siswa yang sebenarnya. Dan pertanyaannya kemudian, masih perlukan ujian nasional secara online?

 

Note: Artikel ini diterbitkan pada kolom Opini Harian Waspada Medan 4 Maret 2015

Link:  http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=41592:perlukah-ujian-nasional-online&catid=59:opini&Itemid=215

Advertisements

Tablet dan pembelajaran digital di sekolah

Tablet dan pembelajaran digital di sekolah[1]

 <<Klik disini untuk download full article PDF>>

 

Oleh: Herri Mulyono

Era pembelajaran digital akan segera dimulai. Tidak lama lagi guru dan siswa di sekolah tanah air akan menggunakan buku-buku elektronik yang disajikan dalam sebuah perangkat keras bernama tablet. Dalam statistik, Indonesia merupakan Negara nomor 5 pengguna telepon pintar terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 83 juta jiwa. Jumlah ini menurut techinasia diperkirakan 14% dari total penduduk di Indonesia. Tingginya pengguna telepon pintar dengan aplikasi yang mirip dengan tablet merupakan salah satu indikasi masyarakat melek teknologi digital dan merupakan potensi besar bagi guru dan siswa di tanah air dalam mengusung pembelajaran digital di sekolah.

Seperti ditegaskan oleh Mendikbud Anies Bawesdan bahwa pemerintah bertekad mengganti buku-buku pembelajaran dengan format digital yang lebih efektif secara distribusi maupun biaya. Namun sayang bila dengan kemampuan tablet sebagai perangkat TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang canggih hanya digunakan hanya untuk memfasilitasi siswa membaca buku elektronik. Terlebih pemerintah sudah mendapat dukungan PT TELKOM sebagai penyedia layanan internet. Hasil penelitian oleh UNICEF tahun lalu menyatakan bahwa 30 juta pengguna internet adalah anak dan remaja Indonesia. Dengan dukungan PT TELKOM akses internet melalui tablet dapat digunakan untuk menunjang aktivitas pembelajaran di kelas.

Dalam banyak literature disebutkan bahwa integrasi teknologi dalam kegiatan belajar mengajar berdampak positif tidak hanya pada hasil belajar siswa, tetapi juga pada motivasi dan tingkat kepercayaan diri siswa dalam proses pembelajaran. TIK dalam pembelajaran juga mencakup penggunaan tablet sebagai media dan sumber pembelajaran. Perangkat tablet memungkinkan format buku elektronik dengan dukungan image, audio dan video sehingga materi pembelajaran menjadi menarik serta dapat dengan mudah dipahami oleh siswa.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan tablet dalam mendukung pembelajaran digital di sekolah. Pertama, belajar dari pengalaman. Sebenarnya, penggunaan tablet untuk membaca buku elektronik bukanlah hal yang baru di dunia pendidikan tanah air. Tahun 2008 Departemen pendidikan nasional (sekarang Kemdikbud) mengeluarkan buku sekolah elektronik (BSE). Untuk mendukung program buku elektronik tersebut, pemerintah memberikan sarana pendukungnya yaitu e-book reader (perangkat keras untuk membaca buku elektronik) ke sekolah. Sayangnya, kualitas e-book reader yang dibagikan oleh pemerintah berkualitas rendah sehingga untuk membaca konten buku elektronik diperlukan waktu loading yang cukup lama. Sehingga dibandingkan dengan buku konvensional sangat tidak efektif. Jumlah perangkat e-book reader yang diterima oleh sekolah juga masih sangat terbatas dan sehingga tidak mencukupi kebutuhan siswa. Pada akhirnya sekolah harus mencetak buku elektronik tersebut dalam format kertas dengan dukungan dana dari pemerintah. Masalah lainnya adalah terkait dengan penggunaan dan perawatan. Kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan perangkat TIK di sekolah tidak sebanding dengan kemampuan merawat perangkat teknologi tersebut. Bahkan banyak sekolah yang tidak memiliki pegawai dengan kemampuan khusus merawat dan memperbaiki perangkat TIK. Akibatnya, banyak perangkat TIK di sekolah yang rusak karena minim perawatan. Bila pemerintah serius dengan tekad pembelajaran digital maka perangkat TIK yang dibagikan ke sekolah harus benar-benar dengan kualitas yang baik, serta mendukung sekolah dengan dana dan bimbingan perawatan perangkat TIK.

Kedua, pendidikan literasi digital. Membawa tablet kedalam proses pembelajaran tentunya harus diiringi dengan pendidikan literasi digital supaya teknologi canggih tersebut dapat digunakan dengan effective khususnya dalam meningkatkan hasil pembelajaran di sekolah. Menurut Rubble dan Bailey (2007), literasi digital diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk menggunakan teknologi digital dan tahu kapan dan bagaimana menggunakannya. Di sekolah, pendidikan literasi digital harus mencakup dua hal yaitu pendidikan literasi informasi dan literasi media informasi. Bila siswa tidak dibekali dengan pengetahuan tentang informasi dan media ini maka budaya aktivitas digital yang bijak tidak akan terbentuk dan pada akhirnya berdampak negatif terhadap penggunaan perangkat TIK dikelas pembelajaran. Di negara-negara maju, pendidikan literasi terintegrasi dengan kurikulum sekolah sebagai penyeimbang penggunaan teknologi pembelajaran di kelas. Contoh saja Skotlandia, pendidikan tentang literasi digital dimulai dengan pengenalan beragam bentuk informasi dan bagaimana menyaring informasi tersebut. Di sekolah-sekolah Skotlandia siswa juga diajarkan bagaimana menggunakan internet secara bijak, bagaimana mengevaluasi informasi yang disajikan, serta dibimbing bagaimana menyeimbangkan aktivitas di dunia maya dan di kehidupan nyata sehari-hari.

Ketiga, kesiapan guru. Penggunaan perangkat teknologi canggih di kelas pembelajaran tentunya harus dengan kesiapan guru yang baik. Guru yang siap dengan sikap terbuka menggunakan TIK akan berpengaruh positif terhadap aktivitas pembelajaran. Kesiapan guru bukan hanya ditunjukkan oleh seberapa mampu guru menggunakan TIK tetapi juga tingkat pengetahuan guru tentang teknologi, pedagogi dan materi pembelajaran. Dalam banyak literature pengetahuan guru tentang tiga aspek teknologi, pedagogi dan materi pelajaran merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran berbasis TIK sehingga pembelajaran tersebut dapat bermakna. Dengan pengetahuan ini guru tahu jenis teknologi yang tepat untuk memfasilitasi sebuah topic pembelajaran serta capaian yang akan diperoleh melalui dukungan teknologi tersebut. Selain itu, guru juga mampu dalam melakukan control penggunaan TIK oleh siswa selama proses pembelajaran sehingga kegiatan yang tidak terkait dengan aktivitas belajar siswa dapat dihindari. Untuk mendukung kesiapan guru ini pemerintah harus memberikan membimbing kepada guru dalam menggunakan perangkat TIK selama pembelajaran melalui program pelatihan yang berkesinambungan dan tepat sasaran. Bila guru telah memilik kemampuan dan pengetahuan TIK yang memadai, maka guru dapat memainkan perannya dalam mensukseskan program pemerintah tentang pembelajaran digital di sekolah.

 

[1] Artikel opini, sumber: Banjarmasin Post, Kamis 26 Februari 2015, tersedia pada http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/01/13/tablet-dan-pembelajaran-digital-di-sekolah

Single-Correct Answer (SCA) and Multiple-Correct Answer (MCA) in Multiple-Choice Computer Assisted Language Testing (CALT) Program

<Click here to download full paper>

Single-Correct Answer (SCA) and Multiple-Correct Answer (MCA) in Multiple-Choice Computer Assisted Language Testing (CALT) Program

Herri MULYONOa*, Gunawan SURYOPUTROa & Tri Wintolo APOKOa

aUniversity of Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Indonesia

*hmulyono@uhamka.ac.id

Computer has been widely used to assess language proficiency (Coniam, 2006; Dunkel, 1991; Lee, 2004; Y. Sawaki, Stricker, & Oranje, 2009). In promoting the benefits of computer in carrying the language testing task, some literature (e.g. Choi, Kim, & Boo, 2003; Coniam, 2006; Lee, 2004; Sawaki, 2001) evaluate the use of computer in testing language within comparison to conventional paper-based test. Coniam(2006) evaluate the use computer-based and paper-based English listening test. His evaluation of 115 students grade 11 and 12 from two schools attending the two mode of tests: computer and paper based tests has shown that the students performed better in computer-based test than the conventional one. In Choi et al.’s (2003) comparative study of a paper-based language test and a computer based test at five universities at Korea, they found that the section of reading within the computer based test received the weakest support. Choi et al (2003) believes that eye fatigue may be factors harming students’ concentration while reading the passages on the computer. This corresponds suggestion offered by Bridgman and Rock (1993) saying that computer based test need to pay attention to the length of instruction given.

Some authors view that open-ended questions (e.g. essay) offers wider room for measuring cognitive process as well as behavior (e.g. Bennett et al., 1990; Birenbaum & Tatsuoka, 1987; Brown, 2004). Although multiple choice test format is likely viewed to be inferior in exploring students’ problem solving ability as well as constrain teachers from retrieving much information from the students or test takers (Birenbaum & Tatsuoka, 1987), the test format may be seen as alternative of test that offer less stress for students and practical. Within multiple choice test format, students may be facilitated by available answers to the question items (Cheng, 2004) and retrieved direct feedback as the test offers benefit in suggesting practicality of scoring (see Birenbaum & Tatsuoka, 1987; Bridgeman & Rock, 1993).

In a study conducted by Coniam(1999), the use of multiple choice test in computer based program is shown to be students’ preference compared to the paper-based test. Coniam(1999) argues that students’ preference to the computer-based program is derived by simplicity of the program such as clicking alternative answer in multiple choice test application. In addition, a study conducted by Cheng (2004) has shown that students preferred the multiple-choice test compared to the multiple choice cloze and the open-ended tests. Cheng (2004) discusses that students’ preference is mainly derived by stimuli available in multiple choice test format. Furthermore, it is likely obvious that alternative answers available in the multiple choice tests promote students for guessing. However, it is still not clear if the scoring method applied in the three test formats may also attribute to such students’ preference.

In Indonesian context, wide use of computer to facilitate language testing has been applied to evaluate school teachers’ competence. For such use, the Indonesian government has developed web-based application to facilitate this teacher competency online testing as available to access at http://www.ukg.web.id. Although teachers have been shown to get much exposures as well as experiences in completing the online testing, they are likely to pay little interest of using computer to evaluate their students’ language proficiency. There are three indications to this reluctance of using computer for testing purpose in Indonesian secondary school context: 1) teachers’ inadequate knowledge of testing principles applied in computer-based testing, and 2) teachers’ inability of designing computer based test for classroom use. This paper describes principles applied in designing SCA and MCA CALT programs in assessing secondary school students’ grammar proficiency. It also discusses students’ preference to SCA and MCA CALT programs they experienced.