Dosen Pembimbingku cantik

Dosen Pembimbingku Cantik: Model Thesis Supervisor

Ditulis oleh:

Herri Mulyono (Dosen UHAMKA)

Menikmati pendidikan diluar negeri, bukan semata menikmati kelengkapan fasilitas kampus yang benar-benar mendukung kita untuk belajar. Tapi juga menikmati keluasan berfikir ilmiah serta kemampuan dosen pembimbing yang benar-benar ‘cantik’ dalam mengarahkan mahasiswa dalam bimbingannya. Berikut ini adalah bebarapa pelajaran yang dapat kita petik sebagai model supervisor untuk mahasiswa:

1) Mengenal mahasiswa dan ketertarikannya

Seketika datang pertama kali untuk bimbingan, saya cukup dikejutkan oleh perbincangan supervisor tentang diri saya. Beliau sepertinya ‘cukup mengenal’ background mahasiswanya. Jawabannya adalah: ‘online information’. Tingginya pemanfaatan teknologi internet benar-benar tidak dapat dipungkri bahwa teknologi itu telah dapat merekam jejak kita di dunia maya, termasuk aktivitas kita di jejaring sosial. Rupanya setiap Supervisor telah mencari tahu calon mahasiswa bimbingannya sehingga gap ‘orang asing’ dapat diminimalisir dab hubungan kekerabatan dapat dibangun antar dosen pembimbing dan mahasiswanya.

2) Availability of Time

Karena mungkin semangat untuk belajar, saya datang lebih awal dari waktu bimbinga, sekitar 10 menit. Namun, walaupun pembimbing sedikt terkejut dan senyum-senyum saja, ekspressi ungkapannya ‘You come too early’ menandakan bahwa saya harus tepat waktu, ontime. Rupanya, setiap mahasiswa berhak untuk mengusulkan waktu yang sesuai untuk bimbingan, dan bukan selalu dosen pembimbing yang ‘agak sok sibuk’ menentukan jadwalnya. Tapi yang menarik adalah, bahwa setiap dosen pembimbing MEMILIKI waktu, dan ‘MENYEDIAKAN’ waktu untuk mahasiswa bimbingannya. Dosen pembimbing telah menjadwalkan dirinya untuk bertemu dengan mahasiwa bimbingannya dalam satu semester (bukan mahasiswa yang dituntut untuk mengejar pembimbingnya), sehingga setiap mahasiwa memiliki porsi waktu yang cukup untuk menerima bimbingan, dan dapat lulus tepat waktunya.

3) Encouragement terhadap topik penelitian

Hal baru yang saya pelajari adalah bahwa dosen pembimbing benar-benar ‘membimbing’  mahasiswanya berdasarkan ketertarikan mahasiswa itu sendiri, bukan kemauan, motivasi, ataupun ketertarikan dosen pembimbingnya. Ketika dosen pembimbing meminta mahasiswa untuk menjelaskan area ketertarikannya, maka dosen pembimbing mengalurkan diskusi berdasarkan track sudut pandang mahasiswa tersebut, dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari sudut pandang dosen tersebut benar-benar memperkaya khasanah keilmuan. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh dosen pembimbing memberikan keunggulan dan kelemahan riset yang sedang diusulkan oleh mahasiwa. Apabila seorang mahasiswa ‘mentok’ tidak dapat menjawab pertayaan dosen,  maka sang dosen tak segan untuk memberikan referensi-referensi baru untuk dibaca dan dipahami sehingga mahasiswa dituntun untuk mencari jawabannya ataupun memperkecil cakupan area riset, bukan ‘terpaksa’ atau ‘dipaksa’ mengganti area riset.

Jika dosen merasa tidak ‘mumpuni’ pada suatu area atau isu yang dicakup oleh mahasiswa, maka tidak segan ia akan mengusulkan dosen lain sebagai co-supervisor yang ‘mampu’ memberikan perspektif lain, bukan, sekali lagi memaksa mahasiswa mengganti judul penelitiannya. Disinilah terlihat ‘saling mendukung’ satu dosen dengan dosen yang lainnya, bukan justru menyalahkan dosen lain yang mencoba memberikan sudut pandang yang mungkin dapat lebih memperkaya materi riset yang diusung oleh mahasiswa. Sehingga dosenpun dapat belajar satu sama lainnya dalam bidang yang mereka kurang paham/ahli.

(bersambung ..)

*Jika posting ini bermanfaat, mohon di rating dan di share sehingga yang lain dapat merasakan manfaatnya.

Advertisements

Quantitative Abuse?

Quantitative Abuse: Mixed Method?

Ditulis oleh:

Herri Mulyon (Dosen UHAMKA)

Beberapa hal yang harus dipertanyakan adalah tren penelitian pendidikan yang mengarah pada hubungan, pengaruh, efek dimana metode penelitian kuantitatif menjadi tolak ukur utama. Tren inilah yang kemudian ‘memaksa’ mahasiswa akhir yang sedang mengerjakan riset sebagai tugas akhir studinya untuk menggunakan metode hitung-hitungan angka ini menjadi metode pemecahan masalah risetnya. Padahal tren kuantitatif dalam penelitian sosial khususnya pendidikan kini mulai menjadi isu hangat dalam perdebatan para ahli. Salah satu isu utamanya adalah subjek penelitian, manusia yang memiliki sifat, tingkah laku, perasaan atau karakteristik khusus lainnya yang tidak bisa semata diteliti dengan menggunakan metode kuantitatif. Sehingga alternatif mixed method atau metode kombinasi antara kuanatitatif dan kualitatif menjadi jalan keluar yang menjanjikan seperti yang di usung oleh Lewis & Ritchie, 2004; Cohen & Manion, 1994; Creswell, 2003; Robson, 1993; dan Tashakkori & Teddlie, 2010.

Ada beberapa indikator mengapa mixed method ini belum digandrungi oleh banyak peneliti muda di Indonesia (berdasarkan hasil survey saya di jurnal online universitas yang memiliki program keguruan):

1) Masih kuatnya image superioritas Logika matematika

Walau Gardner telah memunculkan teori tentang multiple intelligence yang mulai membuka pemahaman baru tentang kecerdasan yang tidah hanya tergambar dari test IQ, image masyarakat luas, juga beberapa kaum akademisi tentang ‘kecerdasan’ yang diukur dengan test IQ (logika matematis) masih menjadi trend. Hal inilah yang menjadikan banyak pemahaman bahwa riset yang berkualitas sangat bersandar pada angka-angka yang disajikan. Hal ini juga meluas kepada salah persepsi yang kemudian ditampilkan dalam perkuliahan Metode Kuantitatif, yang menekankan pada aktivitas perhitungan yang terlihat rumit, dibandingkan pembahasan tentang metode, desain, serta prosedur penelitian yang memiliki peran utama dalam menjawab pertanyaan penelitian (research question). Padahal, perkembangan software statistik kini sudah mulai meluas dikalangan masyarakat akademis sehingga quantitative abuse seharusnya tidak dijadikan momok yang menakutkan

2) Belum tersentuhnya metode Mixed Method dalam perkuliahan

Sejauh ini, perkuliahan metode penelitian hanya mencakup dua hal, yaitu kuantitatif dan kualitatif dimana alternative mixed method belum mendapat ruang sebagai jalan alternatif mencapai tujuan penelitian. Pemisahan dua mata kuliah kuantitatif dan kualitatif hendaknya tidak lagi dijadikan isu utama dalam pengajaran melainkan integrasi kedua mata kuliah itu menjadi pilihan bagi mahasiswa dalam risetnya nanti. Sehingga, mixed method dapat menjadi salah satu dari dua yang telah tersedia sebagai alternatif dalam pemecahan masalah riset yang sedang digiatkan oleh mahasiswa

3) Faktor pembimbingan

Dalam banyak hal, aktivitas penelitian oleh mahasiswa cendrung sangat dipengaruhi oleh dosen pembimbing, baik dalam penentuan tema penelitian hingga metode apa yang digunakan dalam riset mahasiswa. Isu klasiknya adalah belum meluasnya budaya open-minded dan budaya belajar bagi sebagian dosen sehingga mahasiswa cendrung diarahkan dengan ‘cara-cara yang sama’ seperti dosen tersebut menjalani studinya beberapa tahun yang silam. Sehingga ada baiknya jika dosen juga dituntut melakukan up-date ilmu pengetahuan dan keluar dari budaya-budaya kuno yang justru mengikat dirinya jauh untuk tidak berkembang.

(bersambung …)

*Jika post ini bermanfaat, mohon di rating dan share sehingga yang lain juga dapat mengambil manfaatnya

Diantara Kuantitatif (Quantitative) dan Kualitatif (Qualitative) dalam Research

Diantara Quantitative dan Qualitative Research

Ditulis oleh:

Herri Mulyono (Dosen UHAMKA)

Terdapat beberapa kesalah pahaman yang terjadi ketika berbicara tentang metode riset, yang dalam hal ini adalah kuantitatif dan kualitatif. Pertanyaan pertama yang selalu timbul ketika memulai penulisan skripsi atau tesis umumnya adalah, apakah jenis kuantitatif atau kualitatif yang akan dipilih. Padahal, metode adalah cara untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Perlu di renungkan kembali, bahwa apakah itu skripsi ataupun tesis merupakan sebuah aktivitas ilmiah yang tujuannya adalah problem solving, atau memecahkan masalah. Pemecahan masalah tentu banyak ragamnya, sangat bergantung pada tujuan dari aktivitas yang dilakukan, yaitu apakah mencari indikasi, menjelaskan, membedakan, mencari dampak, mencari penyebab dan lainnya. Sehingga, alur logikanya adalah tujuan-alasan-dan bagaimana memecahkan masalahnya.

Tujuan dalam artikel ini adalah apa yang ingin kita capai dengan melakukan dalam riset (skripsi, atau tesis). Dalam sistematika penulisan, tujuan dituliskan secara gamblang dengan sub-judul tujan penelitian atau objective of the study. Sedangkan, alasan adalah latar belakang yang memacu kita melakukan penelitian. Latar belakang ini mencakup alasan konteks maupun ruang kosong dari studi-studi yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan riset kita. Pada tahap selanjutnya adalah bagaimana mencapai tujuan, atau alternatif cara yang bisa kita lakukan untuk mencapai tujuan riset tersebut. Pertanyaan ‘Bagaimana’ inilah yang kita sebut dengan metode penelitian yang muncul ketika kita sudah mendapatkan pertanyaan: ‘apa tujuan riset kita?’

Kedua, sering kali pembicaraan tentang dua metode kuantitatif dan kualitatif muncul terkait analisa data yang biasa diletakkan pada bab 3. Walaupun pernyataan ini benar, namun tidak sepenuhnya dibenarkan. Hal ini dikarenakan bahwa banyak buku yang mengatakan bahwa penggunaan salah satu dari metode tersebut akan mempengaruhi bagaimana menurunkan teori sebagai salah satu landasan utama kita (lihat Lewis & Ritchie, 2004; Cohen & Manion, 1994; Creswell, 2003; Robson, 1993). Sehingga dapat dikatakan bahwa memilih salah satu metode penelitian, apakah kuantitatif ataupun kualitatif, akan menuntun kita dalam merangkai landasan teori, desain penelitian, serta prosedur penelitian yang akan kita lakukan.

Apakah kuantitatif ataupun kualitatif bukanlah persoalan, dan seharusnya tidak dijadikan permasalahan awal tetapi bagaimana menentukan tujuan penelitian yang dirangkai dengan pertanyaan penelitian (research question) dengan benar. Sehingga, sebagai peneliti muda, kita tidak terlalu dibebani dengan banyak hal yang belum waktunya untuk ditampilkan. Akibatnya adalah ‘rasa takut’ untuk memulai penelitian itu sendiri. Tentukan tujuan penelitian yang benar, yang dapat dijangkau dan terukur.

Selamat meneliti

 

*Jika post ini bermanfaat, mohon di rating dan di share sehingga yang lain dapat merasakan manfaatnya