Desk Note from York: You rushed yourself

“You rushed yourself,…”

“You’ve been doing a great job, you see..”

“You’ve been here only for two months, and see… you’ve done a great job”

“Don’t rush yourself,..”

Berulang-ulang aku ingat ucapan Florentina, Supervisor-ku di York.. dan berfikir, mungkin yang dikatakannya itu benar, bahwa aku sering terburu-buru.. Ya, .. terburu-buru mengerjakan sesuatu hal, atau mungkin banyak hal … dan terburu-buru ingin melihat bagaimana kerja yang aku lakukan itu berujung sukses..

Di ruang kerja gedung Berrick Soul Building, aku coba merebahkan diriku di kursi kerja, didepan layar monitor yang menyala-nyala memanggilku untuk kembali bekerja. Tapi, ucapan Florentina waktu itu membawa ingatakanku terbang kembali disaat-saat aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan… Ya, .. pekerjaan yang cukup banyak dengan tenggat waktu yang cukup mengikat… rasanya benar-benar tertekan waktu itu.. dan sering kali aku berandai, bilakah tiba waktunya hidup sejahtera tanpa beban sebanyak ini.. dan mungkin wajar, .. ketika seorang teman Taiwan menyindir, “hay, you have gray hair..” dan aku hanya mencoba berkilah, “Well.. you know, my ancestor was originally from Europe..” Canda yang bisa aku sampaikan untuk menutupi bagaimana beban kehidupan bisa merubah warna rambut..

Memandangi layar laptop itu, aku tersentak ketika sebesit pertanyaan tiba-tiba hadir, “apakah benar bahwa hidup penuh dengan tekanan?, ataukah diri kita sendiri yang menciptakan tekanan hidup itu?”

Ah benar juga pertanyaan ini.. mungkin aku sendiri yang menciptakan tekanan-tekanan dalam hidup, dan membuat beban hidup itu bertambah berat.

Tapi, bagaimana bisa?? … Lalu, bagaimana ucapan Florentina bisa hadir dalam jawaban dari pertanyaan ini?

Oh rupanya aku sadari, bahwa sebenarnya hidup tidak akan sesulit itu jika kita mampu meletakkan sesuatu dengan pada porsinya… Ternyata, kebiasaan “terburu-buru” itulah yang menjadikan hidup lebih tertekan dari yang seharusnya. Mungkin sama seperti ketakutan, padahal tidak ada hal yang dapat menakutkan manusia kecuali rasa takut itu sendiri.

Dan rupaya, lahirnya terburu-buru atau ketergesa-gesaan itu adalah efek luar biasa dari kebiasaanku ‘menyepelekan waktu’.

“Ah, masih lama.. tenang saja.”

“Ah, inimah gampang, dikerjakan sebentar juga selesai.. nanti saja.”

Inilah kalimat-kalimat yang sering terucap ketika sebuah pekerjaan baru saja lahir.. menyederhanakan waktu dan memandang mudah pekerjaan, tapi tidak pernah mau untuk segera mulai dilakukan.

Mungkin kebiasaan inilah yang selalu membuat pekerjaan ringan terasa berat, karena dikejar-kejar waktu yang sebenarnya tidak pernah ada, kecuali kita sendiri yang membuatnya.

Ketika waktu sudah terkikis, dan menyediakan sedikit dirinya untuk pekerjaan yang belum sama sekali dimulai, maka disanalah tekanan dimulai… dan kerjaan menjadi hal-hal yang benar-benar membuat kita terasa hidup dan mati.

Namun, ada saja celoteh motivasi, biasanya kita bisa lebih kreatif dan inovatif ketika hidup dalam tekanan.. dan hal inilah yang kemudian menjadi pembenaran untuk hidup selalu dalam tekanan

Jika memang kreatif dan inovatif itu bisa lahir dalam tekanan, dan tentulah dua hal itu juga sangat mungkin lahir dalam kelapangan,…

Jika memang dua hal kreatif dan invoatif bisa lahir dalam kelapangan, mengapa memilih hidup dalam tekanan?

Padahal kita manusia adalah makhluk lemah, atau makhluk yang rentan dengan penyakit dalam hal fisik. Tuhanpun telah berulang kali memberikan nasihat, .. bahwa manusia adalah makhuk lemah yang selalu tergesa-gesa…

Kembali aku mengingat-ingat bagaimana dulu aku hidup dalam tekanan kerja yang justru merelakan kesehatanku sendiri. Memang benar dari kerjaan itu aku bisa membangun rumah tinggal yang layak untuk keluarga.. tapi .. mengingat bagaimana aku sendiri takut keluar rumah karena fisikku yang lemah, sering pusing dan hampir pingsan karena letih otakku bekerja dibawah tekanan waktu.. hmmm… rasanya sangat tidak enak.. dan sungguh, aku tidak akan mengulanginya lagi…

Sering kali aku berlapang dada, bahwa kerjaan yang dikerjakan dalam tekanan itu bisa selesai tepat pada waktunya.. tapi aku sering dilupakan pengorbanan yang aku keluarkan untuk kerjaan itu adalah berlipat ganda dari yang seharusnya. Pengorbanan kesehatan, waktu yang menjadi hak orang lain terhadap diriku, dan waktu untuk diriku sendiri hilang sebagai bentuk pengorbanan,… lebih mahal dari return yang aku dapat dari penyelesaian pekerjaan itu… dan ini karena terlalu menyepelekan waktu dan menganggap ringat pekerjaan

Dan sering kali juga aku berujar, .. sendainya saja ada waktu lebih maka kerjaan ini bisa lebih sempurna dan lebih baik… Ya.. lebih baik, seandainya saja… Tapi buktinya, tidak akan pernah lebih baik karena kita sendiri yang tidak pernah mau untuk memulai dari awal dari setiap bentuk pekerjaan.

Walau benar kerjaan kita bisa selesai … tapi dengan tergesa-gesa tidak akan pernah ada pekerjaan yang sempurna. Lihatlah berapa lama Einstain menyelesaikan E=MC2 ny?? lebih dari 15 tahun, ia masukkan kalkulasinya dilaci kerja, dan dikerjakannya dengan disiplin tiap harinya .. bukan hal yang mencerminkan keterburu-buruan atau ketergesa-gesaan

Walau benar kerjaan kita mendapatkan benefit dari pekerjaan itu, .. tapi lihat bagaimana ketergesa-gesaan kita mengambil benefit lain yang lebih mahal harganya dari hasil pekerjaan itu.. “That, man ignores his health to get money, but soon he gets the money, he spends his money to recover his health”

Sungguh hal yang benar-benar harus aku sadari, bahwa awal waktu adalah untuk dimanfaatkan untuk segera memulai pekerjaan yang diberikan kepada kita. Memulai adalah hal WAJIB untuk segera dilakukan..

Jika memang pekerjaan itu sulit untuk dilakukan, maka segeralah mulai untuk berfikir bagaimana untuk memulainya dari yang terkecil..

Jika memang berfikir untuk memulai pekerjaan itu terlalu sulit, maka datanglah kepada seseorang yang mampu memberikan pendapat tentang jalan keluarnya

Jika memang meminta pendapat seseorang itu terlalu sulit, mintalah kepada Tuntuk segera memberikan hati yang MAU menerima HIDAYAH

Pekerjaan yang kita punya, benar sebaiknya untuk mulai dipikirkan..

Tapi sekeras apapun pekerjaan itu dipikirkan, tidak akan pernah selesai kecuali segeral diambil tindakan untuk menyelesaikan pekerjaan itu

Jika tahu lapar, … ambil nasi, taruh di piring, ambil ayam panggangnya .. lalu makan.. Jangan kelamaan mikir, ga bakalan kenyang.

York, 27 September 2012

Untuk diri yang kadang melalikan waktu, semoga diberikan Hidayah

Herri

Advertisements

Rahasia Bercinta dan Jatuh Cinta

Rahasia Bercinta dan Jatuh Cinta

by Myenglish Uhamka on Monday, August 30, 2010 at 10:43am

Raafi sayang, banyak sekali status di facebook ini yang mengekspresikan cinta, dari mulai rindu berat, kangen, jatuh cinta, putus cinta, marah karena cinta dan lainnya. Tapi yang cendrung abi baca adalah beberapa status yang bertemakan haus cinta, ingin dicinta, mengharap cinta, ataupun menginginkan cinta yang telah pergi… dan pag ini abi ingin sedikit berbicara tentang itu..

Sayangku, pertanyaan yang selalu muncul adalah, apakah ingin dicintai ataukan mencintai? sepertinya pertanyaan ini menarik, … tapi kalau dipikir lebih dalam, kalau pertanyaan ini diarahkan kepada sebuah pilihan akan menjadi pertanyaan yang bodoh, .. mengapa demikian, karena dicintai dan mencitai adalah fitrah manusia yang diberikan oleh Tuhan. Keduanya ada pada diri manusia dan hak manusia untuk memiliki keduanya…Seseorang yang selalu sibuk untuk mencintai orangĀ  lain, yang hari-harinya dia gunakan agar orang lain dapat mencintainya akan tiba pada suatu kondisi galau, kenapa ia selalu mengejar cinta, .. dan mengapa ia tidak dicintai… Begitupula orang yang sibuk untuk membuat dirinya untuk dicintai, tanpa pernah berfikir untuk mencintai orang lain, maka kemudian akan timbul ujub (rasa sombong) yang bermuara kepada cinta diri sendiri yang berlebihan.

Abi, mengapa ada orang yang cintanya tidak terbalas, atau cintanya bertepuk tangan??

Sayangku, jawaban sederhananya adalah dengan pertanyaan, apakah ia memang pantas untuk dicintai? atau layakkah dirinya untuk menerima cinta, atau pantaskah dirinya untuk disandingkan dengan cinta orang yang ia cintai? Mungkinkah seseorang mencintai orang lain apabila orang yang ia cintai itu tidak layak untuk dicintai? Pantaskah apabila seseorang mencintai orang lain tetapi orang yang dicintainya itu tidak mencintai dirinya sendiri? …

Raafi anakku sayang,

Manusia diciptakan dengan 3 potensi utama, indra, rasa dan logika.. Indra adalah tubuh kita, rasa adalah emosi yang begejolak dari diri kita dan logika adalan permainan matematis otak.. Rasa cinta yang bersandar pada indra akan muncul dengan pandangan, cinta karena materi, cantik, tampan, kaya dan lainnya. Cinta inilah yang sering disebut dengan cinta dasar manusia,.. yang memiliki dasar yang sama seperti hewan (ingat manusia dan hewan sama, yang membedakan adalah rasa dan logika).

Cinta berdasarkan rasa bermuara pada kasih sayang, rasa tentram, baik hati dan lainnya, .. yang semuanya bersumber kepada emosi kita sebagai manusia dalam peranannya sebagai makhluk sosial. Dan cinta logika adalah .. persaan cinta dengan perhitungan dan pertimbangan yang dimainkan oleh otak, “Saya cinta dia karena dia cukup pintar dan kaya”.. Cinta inilah yang melahirkan alasan-alasan logis kenapa cinta bisa hadir pada diri kita..

Tapi ingat, siapa yang mengendalikan indra? siapa yang memainkan rasa? dan siapa yang menyebabkan otak mengeluarkan logika? … Yup, kamu benar, “Ruh”… Ruh yang ditiupkan Tuhan kedalam diri manusia inilah yang menyebabkan kaki dapat melangkah, kasih sayang dapat membahana, dan logika yang menuntun. .. Ruh inilah yang menjadi inti dari indra, rasa, dan logika. Cinta dengan dasar cita ruhiyah inilah yang menyebabkan hal-hal “Gila” terjadi, seorang kaya menikahi seorang miskin, seorang tampan menikahi wanita buta buruk muka, seorang wanita cantik rela mendampingi lelaki tak berindra,… ya inilah cinta atas ruhiyah…

Jika cinta berdasarkan indra ditolak, jika cinta atas dasasr rasa tak terjawab, dan jika cinta berbasis logika tak terwujud, maka cinta atas dasar ruh inilah yang menjadi kunci akhirnya..

Abi, lalu bagaimana mendekati cinta ruhiyah itu?

Sederhana saja sayang ku, dekati yang punya ruh itu.. siapa?? ya benar Tuhan.. Tuhan yang memiliki ruh dan meniupkan ruh kepada indra, rasa, dan logika hamba-hambaNya yang Ia inginkan… Tapi,… ada syaratnya … “Man araafa nafsahu, faqod arafa rabbahu”.. siapa yang mengenal dirinya maka ia sesungguhnya telah mengenal Tuhan. Ya benar, syarat utamanya adalah mengenal diri kita terlebih dahulu. Kita mengenal kebaikan yang ada dalam diri kita, maka hendaknya kebaikan yang ada dalam diri kita memancar keluar. Kita tahu diri kita punya potensi otak yang luar biasa, maka hendaknya potensi itu pun keluar dalam pribadi yang berilmu pengetahuan. Kita mengerti bahwa diri kita memiliki hati untuk berkasih sayang, maka pengenalan tentang kasih sayang ini hendaknya berwujud pancaran cinta serta kasih sayang yang keluar dari dalam diri kita..

Raafi sayangku, apabila pengenalan-pengenalan diri tersebut telah kamu dapatkan, .. maka akan kamu lihat pribadi kamu adalah pribadi yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, aura yang keluar adalah aura kebaikan, sehingga keberadaan kamu adalah pribadi yang penuh dengan manfaat dan tidak pernah memberikan keburukan kepada orang lain.. disaat inilah Tuhan telah mengenali kamu, .. jika Tuhan mengenali kamu, .. maka tentunya malaikat beserta makhluk yang lainnya akan menyambut kedatangan kamu.. dan manusia,.. akan melihat melihat kamu cahaya yang menyinari mereka… Ketika cahaya hadir, maka disanalah dunia bersenandung… mungkin seperti itulah ketika wanita-wanita pembesar itu melihat Yusuf dengan untaian kata “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”

Sayangku, jika kita telah mengenal diri kita dengan sebaik-baik pengenalan, maka disanalah cinta ruhiyah Tuhan telah hadir, .. dan ketika cinta Tuhan telah hadir, maka kamu tidak akan dibebani oleh penolakan cinta manusia, dusta cinta yang penuh dengan tipu daya… Kamu tidak akan merasakan hausnya cinta, karena cinta manusia akan hadir untuk kamu tanpa kamu minta…

Ketika orang lain menyibukkan diri mereka untuk mencintai atau dicintai, maka jadikan diri kamu menjadi pribadi yang pantas untuk cinta, .. pribadi yang mengenal diri dengan baik, dan ketika kamu telah mengenal diri dengan baik, disanalah cinta Tuhan hadir untuk menghilangkan dahaga cinta kamu.. jangan sibukkan diri kamu dengan cinta indra seperti hewan mencintai kaumnya, atau cinta rasa dan logika yang selalu saja berakhir dengan sakit hati…

Selamat jatuh cinta, sayang ku Raafi

30 Agustus 2010

Abi

Seandainya saja wanita tahu …

Seandainya saja wanita tahu …

by Myenglish Uhamka on Friday, December 10, 2010 at 7:55am

Sendaianya saja wanita tahu, … bahwa Tuhan mengasihi, menyayangi dan mencintai mereka melebihi kasihNya, sayangNya dan cintaNya melebihi kaum pria. …

Buktinya, Tuhan menjadikan menjadikan alam semesta dengan memakai perumpamaan wanita. Tuhan menjadikan wanita tolak ukur kebangkitan, kemuliaan dan kehancuran dunia dan seisinya dengan untaian kata “baik-baik nya wanita menjadikan baiknya sebuah negeri dan seburuk-buruk wanita adalah buruknya sebuah negeri.” Dan, apabila Tuhan ingin menghancurkan kaum, maka Ia jadikan wanita pada kaum itu buruk terlebih dahulu. Bahkan Pria, yang dianggap perkasa, … ho ho ho, siapa dibalik keperkasaannya??? Benar, Wanita. Da’wah Islam mulai berkobar, karena ada Khodijah… istri Nabi yang bijaksana dan mulia itu.

Pernah lihat Ka’bah yang dikelilingi oleh masjid Al haram? Mengutip perkataan sahabat Teguh Handoko, juga merunut (menggambarkan) rahim seorang wanita.

Wanita bagi Tuhan juga segalanya. Buktinya, Ia menitipkan banyak sifat-sifat agungNya pada wanita.

Tuhan indah, seperti gambaran keindahan wanita. Lihatlah wanita, padangan seorang pria pada wanita selalu dalam keagungan keindahan dan kecintaan, walau selalu bersifat subjektif. Wajar kemudian pepatah menyebutkan ‘beauty is on the eyes of beholder.” Lihat ungkapan “Kecantikan (beauty)” bukan “Ketampanan.” Seburuk apapunĀ  seorang wanita diciptakan, ia tetap memiliki keindahan. Karena, wanita adalah perhiasan dunia. Dan perhiasan selalu memiliki keindahan. Jika saja wanita yang tertutup dengan hijabnya masih terpancar keindahannya, maka bagaimana wanita yang membuka lebar kecantikannya, menghumbar-humbar kecantikannya, ‘wahai pria inilah kecantikanku’? lalu, apa yang akan dilakukan pria apabila sinar kecantikan itu menyilaukan mata-mata mereka, dan menggelapkan hatinya? Kasihanilah pria atas hal ini, berilah kebaikan pada kami.

Tuhan menggambarkan dunia dan seisinya dengan lambang wanita, ‘cantik’ dan ‘indah’

Tuhan menjadikan ilmu dengan sifat wanita, … di dekati, ditemani, ditekuni, dimaknai, diminta, dipinang, dimahar dan dimiliki. Seperti wanita bukan, yang ingin didekati, ditemani, yang ingin memiliki arti, yang ingin diminta, yang ingin seseorang berkorban atau berusaha untuk mendapatkannya (lambang mahar berarti demikian), dan tentunya ingin dimiliki untuk selamanya.

Tuhan menjadikan sifat diriNya pada diri seorang wanita, Yang Dipuji, seperti wanita yang ingin selalu dipuji, Yang Maha Lembut, selembut hati wanita, Yang Maha Pemalu, seperti wanita dengan sifat malunya. Tuhan Yang Maha Indah, dan menitipkan keindahan pada Wanita.

Selayaknya wanita yang mabuk karena cinta, yang rela memberikan kehormatan dan kemuliaan diri untuk pria yang ia cinta, Tuhan pun demikian. Tuhan juga mabuk karena cinta, ‘jika engkau berjalan mendekatiku, maka Aku akan berlari mendekatimu, jika engkau berlari, maka Aku akan lebih cepat dari itu,’ begitu ucapNya. Tuhan memberikan apa yang diminta oleh orang-orang yang Ia cintai dengan penglihatanNya. Jika apa yang diminta bukan saatnya, maka Ia akan menundanya dan menjadikan waktu penundaan itu sebagai pelajaran dariNya. Dan apabila itu akan menyakiti hidup si hamba, maka Tuhan menggantikannya dengan apa yang terbaik baginya. Tidak akan pernah satu permintaan yang terlewat bagi Tuhan untuk mengabulkan, karena Tuhan memang telah dimabuk cinta dengan si hamba. Hanya satu yang diminta Tuhan, angkatlah tanganmu, dan mintalah padaKu, begitu Tuhan tersipu malu dalam firmanNya.

Memang benar Tuhan melebihkan suatu kaum dari kaum yang lain, dan Tuhan melebihkan kaum pria atau kaum wanita. Bukan melebihkan dalam hakekat penciptaannya, tapi melebihkan tugas dan tanggung jawabnya. Atas dua hal inilah Tuhan menjadikan pria dan wanita berbeda, karena memang ada tugas berbeda yang harus diemban bagi keduanya. Benar Tuhan menjadikan pria sebagai pemimpin kaum wanita, untuk memimpin bukan untuk menyakiti ataupun menzholimi. Seperti sebuah kendaraan, kaum pria adalah supir yang mengarahkan laju kendaraan, karena kendaraan itu membawa harta yang paling mulia yaitu Wanita dan mereka yang terlahir dari rahimnya. Disinal letak kemuliaan wanita sebagai harta yang dijaga kehormatan dan kemuliaannya, dan jangan pula wanita merendahkan dirinya dengan meminta kesetaraan atas pria.

Untuk tugas kepemimpinan pria atas wanita, maka wajarlah apabila pria menerima hukuman Tuhan yang paling berat apabila ia tidak mampu menjaga hartanya. Maka jatuhlah hukuman Tuhan pada pria yang tidak bisa menjaga hartanya, pada pria yang tidak mampu menjadikan wanita baik atau lebih baik.

Wanita memiliki sifat Tuhan, dan selayaknya sifat Tuhan yang memiliki kemuliaan, maka wanita pun harus membawa kemuliaan pada dirinya. Jikalau wanita menghinakan dirinya, maka ia benar-benar telah menghinakan Tuhan dengan sifatNya. Tinggalkan saja kewanitaan jika memang demikian, … ya .. ya seandainya saja wanita tahu…

Untuk wanita tersayangku, ,…

Herri