A PROCESS-GENRE APPROACH TO TEACHING WRITING REPORT TEXT TO SENIOR HIGH SCHOOL STUDENTS

(Klik disini untuk download pdf)

Dimas Pujianto

Universitas Pendidikan Indonesia email: dimas.pujianto@student.upi.edu

Emi Emilia Universitas Pendidikan Indonesia email: emi.emilia.upi@gmail.com

Sudarsono M.I. Universitas Pendidikan Indonesia email: sudarsonobdg@gmail.com

Abstract: This study is aimed at exploring whether a process-genre approach (PGA) teaching steps can help develop senior high students’ writing skills of report text based on schematic structures and linguistic features analysis. A descriptive research design embracing case study characteristics was employed (Nunan, 1992; Cresswell, 2012). The data were gained from teaching process and students’ texts analysis. The basic framework of process-genre approach is the synthesis of teaching steps in genre- and process-based approaches (Badger & White, 2000; Emilia, 2010). Students’ texts were analyzed in terms of Report text’s schematic structures and linguistic features using SFL GBA frameworks (Linguistic and Education Research Network, 1990; Gerot & Wignell, 1994; Halliday, 1994; Anderson & Anderson, 1997; Christie, 2005; Feez & Joyce, 2006; Hyland 2007; Emilia, 2012). The results show that, to some extent, PGA helps students develop writing skills of Report text specifically on the genre knowledge, writing process, and feedback from peers and teacher which was observed from the teaching process and schematic structures and linguistic features analysis. Nevertheless, it is figured out that the low-achieving students need longer modelling and teacher-student conference stages. This study is expected to contribute towards teacher’s understanding in implementing and overcoming problems related to PGA in EFL classes in Indonesia, especially in emphasizing the modelling stage for the lowachieving students and in teaching other genres and language skills.

Keywords: Process-based approach, genre-based approach, process-genre approach

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi apakah tahapan pengajaran pada pendekatan process-genre (PGA) meningkatkan kemampuan menulis teks Report siswa SMA yang dianalisis dari struktur skematik dan ciri kebahasaannya. Disain penelitian deskriptif menggunakan karakteristik studi kasus diterapkan (Nunan, 1992; Cresswell, 2012). Data diperoleh dari proses pengajaran dan analisis tulisan siswa. Kerangka dasar PGA adalah sintesis dari tahapan pengajaran pendekatan genre-based dan process-based (Badger & White, 2000; Emilia, 2010). Tulisan siswa dianalisis berdasarkan struktur skematik dan ciri kebahasaan teks Report berdasarkan kerangka SFL GBA (Linguistic and Education Research Network, 1990; Gerot & Wignell, 1994; Halliday, 1994; Anderson & Anderson, 1997; Christie, 2005; Feez & Joyce, 2006; Hyland 2007; Emilia, 2012). Penelitian ini menunjukkan, pada aspek tertentu, PGA membantu mengembangkan kemampuan siswa menulis teks Report khususnya dalam hal pengetahuan genre, proses menulis, dan feedback dari teman dan guru yang dilihat dari proses pengajaran dan analisis struktur skematik dan ciri kebahasaannya. Namun, ditemukan pula bahwa siswa dengan pencapaian rendah membutuhkan tahapan modelling dan teacher-conference yang lebih panjang. Hasil penelitian ini diharapkan berkontribusi terhadap pemahaman para guru terhadap cara penerapan dan mengatasi masalah dalam implementasi PGA di kelas EFL di Indonesia, khususnya penekanan tahapan modelling bagi siswa dengan pencapaian rendah dan untuk pengajaran jenis teks dan keterampilan berbahasa lainnya.

Katakunci: Pendekatan process-based, pendekatan genre-based, pendekatan process-genre.

(Klik disini untuk download pdf)

Advertisements

Taksonomi Bloom dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Diantara Teori dan Praktek

Taksonomi Bloom dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Diantara Teori dan Praktek

Ditulis oleh: Herri Mulyono

Bagi guru dan mahasiswa jurusan kependidikan, taksonomi Blook adalah teori pembelajaran yang tidak akan pernah terlewatkan dalam aktivitas belajar mengajar ataupun diskus-diskusi yang dilakukan. Taksonomi Bloom hakekatnya adalah klasifikasi tentang tujuan pembelajaran pada 3 area (domain), yaitu kognitif, afektif dan psikomotor pada tahun 1956 (dalam tulisan ini fokus diarahkan hanya pada domain kognitif). Walaupun kemudian, banyak versi baru yang digunakan untuk merepresentasikan taksonomi Bloom tersebut yang pada hakekatnya “hampir sama”. Perhatikan dua versi taksonomi Bloom dibawah ini:

Perubahan Taksonomi Bloom untuk Domain Kognitif
Sumber asli: http://www.odu.edu/educ/roverbau/Bloom/blooms_taxonomy.htm

Pada doman kognitif seperti yang dilihat diatas, level berfikir terendah adalah mengetahui/knowledge atau dalam versi terbarunya adalah menghafal (mengingat) dan bergerak pada level berfikir yang lebih tinggi mulai dari memahami, aplikasi, analisis, membuat sintesis dan pada tahap level berfikir tertingginya mengevaluasi. Dengan menggunakan taksonomi bloom ini, maka pembelajaran suatu materi pelajaran pada hakekatnya haruslah mampu membawa peningkatkan kualitas berfikir siswa dari sebuah level berfikir yang rendah kepada level berfikir yang lebih tinggi. Sayangnya, untuk banyak kasus desain rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat guru disekolah (ataupun mahasiswa yang akan melaksanakan PPL) kurang memperhatikan hal ini sehingga pembelajaran hanya meliputi aspek “pengajaran” atau transfer materi pelajaran saja tanpa melihat alternatif peningkatan kualitas berfikir (kognitif) siswa.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris misalnya, pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hanya memetakan dua hal, pemetaan kemampuan (skill) dan materi ajar tanpa mempertimbangkan pemetaan peningkatan kualitas berfikir (kognitif) siswa. Pemetaan terlihat bagaimana kemampuan mendengarkan harus selajan dengan kemampuan menulis, atau berbicara. Atau, kemampuan membaca disenergikan dengan kemampuan menulis dan lainnya. Selain itu pemetaan materi terlihat bagaimana sebuah indikator pada wacana reading harus disesuaikan dengan indikator pada materi listening dan sebagainya. Sehingga, klaim yang sering terjadi adalah peningkatan kadar pengetahuan (knowledge) atau menghafal English function, jenis wacana (genre) dan lainnya ketimbang aplikasinya (mengaplikasi pengetahuan tersebut secara nyata). Dampak yang timbul kemudian adalah berkurangnya kemampuan berfikir kritis dikalangan siswa yang berimbas pada berkurangnya kemampuan bersaing dimasa yang akan datang.

Pembelajaran dalam kelas bukanlah selalu “transfer materi ajar” pada level terendah menghafal/mengingat tetapi juga guru sebagai pembelajar harus mampu meningkatkan kulitas berfikir siswa pada level yang lebih tinggi comprehension, application, ataupun pada level anslysis, systhesis dan evaluation. Pemetaan terhadap usaha peningkatan kualitas berfikir siswa haruslah menjadi prioritas utama yang kemudian disinergikan dengan pemetaan skill dan materi ajar. Sehingga pada tahap ini siswa tidak hanya “mengetahui” tentang hal yang disajikan dalam materi ajar, tapi juga mampu berfikir kritis seperti yang dituntut dalam standar isi pendidikan nasional.

Sebagian besar guru telah paham tentang kata kerja operasional yang digunakan dalam menuliskan silabus ataupun RPP dengan menggunakan simbol C1, C2, dan C3. Kemampuan guru untuk menggunakan kata-kata kerja operasional ini mungkin tidak perlu diragukan lagi, karena sebagian besar sudah di latih dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh suku dinas pendidikan, kelompok kerja guru, ataupun musyawarah guru mata pelajaran. Guru telah mampu melakukan evaluasi terhadap silabus dan RPP dengan menggunakan kata kerja operasional tersebut, namun belum mampu memaksimalkan peranan kata kerja operasional untuk peningkatan kualitas berfikir siswa.

Secara sederhana, perancangan RPP untuk meningkatan kualitas berfikir siswa dapat dilakukan dengan memetakan level berfikir. Seperti contohnya pada sebuah rpp pertemuan pertama fokus level berfikirnya adalah knowledge-comprehension-application, lalu kemudian pada pertemuan kedua dan berikutnya dimodifikasi comprehension-application-evaluation dan seterusnya sehingga akitivitas siswa untuk berfikir ter-upgrade dalam seri pembelajaran yang kita buat. Lalu, setelah pemetaan level berfikir telah dilakukan, dilanjutkan dengan pemetaan kemampuan atau materi ajar yang akan disajikan.

Jika pemetaan kemampuan berfikir siswa dilakukan secara berkesinambungan maka siswa pada akhirnya akan mampu untuk memaksimalkan domain kognitifnya. Pada masa yang akan datang tentu berdampak pada peningkatan kualitas berfikir kritis siswa sebagai indikasi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Semoga bermanfaat.

 

(Jika posting ini dirasa bermanfaat mohon di rating, dan di share dengan menggunakan social media dibawah ini)