Skripsi, Tesis, Disertasi dan Internet: Cara Mengetahui Keaslian Sebuah Karya Ilmiah

Resensi buku

1-e3617bba8bJudul buku            :  SKRIPSI, TESIS, DISERTASI, dan INTERNET

Penulis                  :  Dr. Tri Wintolo Apoko, M.Pd, Herri Mulyono, M.Pd, dkk

Tahun terbit           : April 2014

Penerbit                :  Pustaka Nusantara

Jumlah halaman     :  64 halaman

ISBN                    :  978-602-7645-30-1

 Resensi oleh: Zurnila Emhar Ch

Berdasarkan surat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen DIKTI) Kemdikbud Nomor 152/E/T/2012 tanggal 27  Januari 2012 para lulusan perguruan tinggi  (universitas) diwajibkan untuk mempublikasikan karya ilmiahnya baik skripsi, tesis, ataupun disertasi. Dengan kebijakan ini mahasiswa diharapkan menjadi lebih termotivasi untuk menulis dan memperkaya khasanah keilmuan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Namun, untuk memenuhi tuntutan tersebut tidak jarang mahasiswa berlaku curang. Karya ilmiah yang mereka kumpulkan tidaklah murni tulisan mereka, melainkan karya plagiat.

Plagiat merupakan tindakan mengambil karya orang lain dan menjadikannya seolah-olah milik sendiri. Orang yang melakukan plagiat disebut plagiator.

Tentang hal ini, Robert (2008) menyajikan plagiat ke dalam tiga kelompok, yaitu: 1) menggunakan hasil karya orang lain, 2) tidak ada pengakuan, dan 3) melakukan parafrasa atau mengulang kembali frasa dari sebuah karya. (hal.13)

Selain itu, plagiat juga banyak terjadi pada tulisan-tulisan yang tidak mencantumkan sumbernya. Bisa juga dengan memodifikasi kalimat tanpa mengakui sumber asalnya. Menurut Bouville (2008); Inciardi (1996), plagiat merupakan tindakan kriminal, lebih dari sekadar kejahatan moral. (hal.14)

Di Indonesia, hukuman bagi para plagiator telah dijelaskan pasal 25 ayat 1 dan 2 UU Sisdiknas yaitu plagiat pada skripsi selain dicabut gelar akademiknya, plagiator juga terancam penjara dan atau denda sebesar Rp.200 juta. (hal.15)

Penyebab tindakan tersebut juga beragam. Kecendrungannya, rendahnya motivasi belajar dan rasa malas yang menguasai mahasiswa sehingga merasa dimudahkan dengan menyalin karya orang lain. Bisa juga karena rendahnya kemampuan mahasiswa dalam menulis terutama dalam hal teknik pengutipan atau sitasi dari referensi yang digunakan. Mereka adalah golongan mahasiswa yang senantiasa berorientasi pada nilai tanpa mengukur kemampuan diri. Selain itu, plagiator juga beranggapan dosen pembimbing tidak akan memeriksa karya ilmiah yang dikumpulkan.

Faktor lain yang bisa menjadi penyebab plagiat adalah banyaknya beban tugas dalam satu semester yang sering membuat mahasiswa kewalahan dan memakai jalan pintas dengan memplagiat. Begitu juga dengan kurangnya pengetahuan tentang plagiat dan tidak memahami pentingnya originalitas dari karya yang dihasilkan serta pengakuan terhadap karya tersebut. Mahasiswa hanya tahu plagiat dalam teori dan tidak menemukan  (jarang) dalam praktek. (hal. 20)

Sedangkan internet menyediakan website-website nakal yang menawarkan karya ilmiah dengan bearagam harga.

Menurut Austin and Brown (1999), sebenarnya perguruan tinggi juga mempunyai kewajiban untuk membuat kebijakan atau peraturan yang jelas tentang plagiat dan mengajari mahasiswa terkait kejujuran akademik. Ini juga terdapat dalam Permendiknas No.17 tahun 2010.

Namun begitulah kenyataannya. Kasus plagiat seperti mata rantai yang sulit diputus. Di Indonesia, banyak sumber pemberitaan (seperti Ramadhanny, 2010; Salam, 2010) yang melaporkan tindak plagiat pada karya tulis akhir mahasiswa baik dalam format skripsi, tesis, disertasi maupun promosi karir akademis. Dalam konteks penulisan buku ini evaluasi terhadap 70 karya tulis ilmiah mahasiswa memperlihatkan bahwa 74,5% mahasiswa melakukan plagiat dengan beberapa tulisan terindikasi unsur kesengajaan dengan menyalin seluruh karya (copy-paste) tulisan orang lain. Dari mahasiswa yang diwawancara, 100% mereka mengaku pernah melakukan tindak plagiasi selama studi, seperti dalam pembuatan artikel sebagai tugas pada beberapa mata kuliyah. (hal.3)

Untuk mendeteksi kasus plagiasi tersebut dikenalkanlah sotfware anti-plagiat(System deteksi plagiasi internet) lewat seminar-seminar. Cara kerja sotfwaretersebut adalah dengan mengadakan perbandingan antara naskah yang diinput ke dalam sistem dengan beberapa karya yang ada pada data base atau sumber internet. Hasil pencarian kemudian dianalisa dari tingkat keunikan dan kemiripannya.

Di dalam buku ini ada beberapa sotfware yang bisa digunakan. Cara kerja dari masing-masing sotfware dijelaskan beserta gambar hingga mudah dipahami dan dipraktekkan ulang. Penyajiannya sangat membantu orang-orang yang bergerak di media-media yang mempublikasikan karya ilmiah, dan juga mahasiswa dan dosen itu sendiri.

Target dari workshop atau seminar tentang plagiat dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menghindari plagiat adalah;pertama, peserta punya pengetahuan tentang plagiat dan cara menghindarinya.Kedua, peserta dapat menggunakan perangkat TIK untuk mengevaluasi tulisan mereka masing-masing termasuk plagiarisme atau tidak. Ketiga, peserta dapat pengetahuan tentang menulis yang baik dan mengimplementasikan pengetahuan ini sehingga mampu memproduksi tulisan ilmiah yang baik tanpa plagiat. (hal.8)

Seminar dan workshop ini diharapkan bisa mensosialisasikan tentang kebijakan plagiat itu kepada mahasiswa dan akan menjadi umpan balik bagi pihak universitas dalam menangani plagiasi internet.

Dengan demikian, untuk masa yang akan datang karya tulis yang dihasilkan mahasiswa akan menjadi lebih berbobot dan bisa dipertanggungjawabkan.***

Dimuat Riau Pos, 28 September 2014

Advertisements

Tablet dan pembelajaran digital di sekolah

Tablet dan pembelajaran digital di sekolah[1]

 <<Klik disini untuk download full article PDF>>

 

Oleh: Herri Mulyono

Era pembelajaran digital akan segera dimulai. Tidak lama lagi guru dan siswa di sekolah tanah air akan menggunakan buku-buku elektronik yang disajikan dalam sebuah perangkat keras bernama tablet. Dalam statistik, Indonesia merupakan Negara nomor 5 pengguna telepon pintar terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 83 juta jiwa. Jumlah ini menurut techinasia diperkirakan 14% dari total penduduk di Indonesia. Tingginya pengguna telepon pintar dengan aplikasi yang mirip dengan tablet merupakan salah satu indikasi masyarakat melek teknologi digital dan merupakan potensi besar bagi guru dan siswa di tanah air dalam mengusung pembelajaran digital di sekolah.

Seperti ditegaskan oleh Mendikbud Anies Bawesdan bahwa pemerintah bertekad mengganti buku-buku pembelajaran dengan format digital yang lebih efektif secara distribusi maupun biaya. Namun sayang bila dengan kemampuan tablet sebagai perangkat TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang canggih hanya digunakan hanya untuk memfasilitasi siswa membaca buku elektronik. Terlebih pemerintah sudah mendapat dukungan PT TELKOM sebagai penyedia layanan internet. Hasil penelitian oleh UNICEF tahun lalu menyatakan bahwa 30 juta pengguna internet adalah anak dan remaja Indonesia. Dengan dukungan PT TELKOM akses internet melalui tablet dapat digunakan untuk menunjang aktivitas pembelajaran di kelas.

Dalam banyak literature disebutkan bahwa integrasi teknologi dalam kegiatan belajar mengajar berdampak positif tidak hanya pada hasil belajar siswa, tetapi juga pada motivasi dan tingkat kepercayaan diri siswa dalam proses pembelajaran. TIK dalam pembelajaran juga mencakup penggunaan tablet sebagai media dan sumber pembelajaran. Perangkat tablet memungkinkan format buku elektronik dengan dukungan image, audio dan video sehingga materi pembelajaran menjadi menarik serta dapat dengan mudah dipahami oleh siswa.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan tablet dalam mendukung pembelajaran digital di sekolah. Pertama, belajar dari pengalaman. Sebenarnya, penggunaan tablet untuk membaca buku elektronik bukanlah hal yang baru di dunia pendidikan tanah air. Tahun 2008 Departemen pendidikan nasional (sekarang Kemdikbud) mengeluarkan buku sekolah elektronik (BSE). Untuk mendukung program buku elektronik tersebut, pemerintah memberikan sarana pendukungnya yaitu e-book reader (perangkat keras untuk membaca buku elektronik) ke sekolah. Sayangnya, kualitas e-book reader yang dibagikan oleh pemerintah berkualitas rendah sehingga untuk membaca konten buku elektronik diperlukan waktu loading yang cukup lama. Sehingga dibandingkan dengan buku konvensional sangat tidak efektif. Jumlah perangkat e-book reader yang diterima oleh sekolah juga masih sangat terbatas dan sehingga tidak mencukupi kebutuhan siswa. Pada akhirnya sekolah harus mencetak buku elektronik tersebut dalam format kertas dengan dukungan dana dari pemerintah. Masalah lainnya adalah terkait dengan penggunaan dan perawatan. Kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan perangkat TIK di sekolah tidak sebanding dengan kemampuan merawat perangkat teknologi tersebut. Bahkan banyak sekolah yang tidak memiliki pegawai dengan kemampuan khusus merawat dan memperbaiki perangkat TIK. Akibatnya, banyak perangkat TIK di sekolah yang rusak karena minim perawatan. Bila pemerintah serius dengan tekad pembelajaran digital maka perangkat TIK yang dibagikan ke sekolah harus benar-benar dengan kualitas yang baik, serta mendukung sekolah dengan dana dan bimbingan perawatan perangkat TIK.

Kedua, pendidikan literasi digital. Membawa tablet kedalam proses pembelajaran tentunya harus diiringi dengan pendidikan literasi digital supaya teknologi canggih tersebut dapat digunakan dengan effective khususnya dalam meningkatkan hasil pembelajaran di sekolah. Menurut Rubble dan Bailey (2007), literasi digital diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk menggunakan teknologi digital dan tahu kapan dan bagaimana menggunakannya. Di sekolah, pendidikan literasi digital harus mencakup dua hal yaitu pendidikan literasi informasi dan literasi media informasi. Bila siswa tidak dibekali dengan pengetahuan tentang informasi dan media ini maka budaya aktivitas digital yang bijak tidak akan terbentuk dan pada akhirnya berdampak negatif terhadap penggunaan perangkat TIK dikelas pembelajaran. Di negara-negara maju, pendidikan literasi terintegrasi dengan kurikulum sekolah sebagai penyeimbang penggunaan teknologi pembelajaran di kelas. Contoh saja Skotlandia, pendidikan tentang literasi digital dimulai dengan pengenalan beragam bentuk informasi dan bagaimana menyaring informasi tersebut. Di sekolah-sekolah Skotlandia siswa juga diajarkan bagaimana menggunakan internet secara bijak, bagaimana mengevaluasi informasi yang disajikan, serta dibimbing bagaimana menyeimbangkan aktivitas di dunia maya dan di kehidupan nyata sehari-hari.

Ketiga, kesiapan guru. Penggunaan perangkat teknologi canggih di kelas pembelajaran tentunya harus dengan kesiapan guru yang baik. Guru yang siap dengan sikap terbuka menggunakan TIK akan berpengaruh positif terhadap aktivitas pembelajaran. Kesiapan guru bukan hanya ditunjukkan oleh seberapa mampu guru menggunakan TIK tetapi juga tingkat pengetahuan guru tentang teknologi, pedagogi dan materi pembelajaran. Dalam banyak literature pengetahuan guru tentang tiga aspek teknologi, pedagogi dan materi pelajaran merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran berbasis TIK sehingga pembelajaran tersebut dapat bermakna. Dengan pengetahuan ini guru tahu jenis teknologi yang tepat untuk memfasilitasi sebuah topic pembelajaran serta capaian yang akan diperoleh melalui dukungan teknologi tersebut. Selain itu, guru juga mampu dalam melakukan control penggunaan TIK oleh siswa selama proses pembelajaran sehingga kegiatan yang tidak terkait dengan aktivitas belajar siswa dapat dihindari. Untuk mendukung kesiapan guru ini pemerintah harus memberikan membimbing kepada guru dalam menggunakan perangkat TIK selama pembelajaran melalui program pelatihan yang berkesinambungan dan tepat sasaran. Bila guru telah memilik kemampuan dan pengetahuan TIK yang memadai, maka guru dapat memainkan perannya dalam mensukseskan program pemerintah tentang pembelajaran digital di sekolah.

 

[1] Artikel opini, sumber: Banjarmasin Post, Kamis 26 Februari 2015, tersedia pada http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/01/13/tablet-dan-pembelajaran-digital-di-sekolah

Memberantas buta informasi

Memberantas buta informasi[1]

<<Klik disini untuk Download full PDF artikel ini>>

Oleh: Herri Mulyono

Data Kominfo tahun 2014 mencatat Indonesia sebagai pengguna internet peringkat kedelapan terbesar di dunia dengan total 82 juta pengguna. Khususnya pengguna media social, beberapa sumber menjelaskan bahwa 69 juta penduduk Indonesia memiliki akun Facebook aktif dengan lebih dari 30 juta jiwa pengguna Twitter. Tak ayal lagi, banyak media cetak maupun daring (online) ikut berpartisipasi dengan turut membuka akun di jejaring social raksasa tersebut. Tujuannya sangat jelas: meningkatkan jumlah pembaca. Dengan tujuan inilah website media daring mulai melengkapi fasilitas berbagi yang memungkinkan pembacanya terkoneksi dan berinteraksi langsung melalui akun Facebook atau Twitter. Fasilitas Like dan share pada Facebook atau Retweet pada twitter serta fasilitas jenis lainnya memberikan beragam kemudahan baik bagi pengelola media maupun masyarakat, dalam akses dan penyebaran informasi. Sehingga sangat memungkinkan bahwa sebuah informasi dapat tersebar ke pelosok tanah air hanya dalam hitungan menit saja.

Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi dalam satu sisi menguntungkan masyarakat khususnya dalam hal kemudahan akses informasi. Dalam hal penyaring informasi, jejaring social juga digunakan sebagai alat untuk menyaring informasi yang berkembang sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengenali trend informasi. Namun disisi lainnya, kemudahan tersebut tidak sebanding dengan filter kebenaran informasi atau berita yang dibaca dan dibagikan. Akibatnya, isu tentang kebenaran sebuah informasi atau berita yang dibagikan oleh Netizen (pengguna internet) menjadi kekhawatiran tersendiri. Seringkali kebenaran sebuah berita tidak lagi ditentukan dari fakta dilapangan, tetapi justru sangat bergantung pada seberapa banyak berita tersebut dibagi oleh sesama Netizen melalui jejaring sosial. Sebuah berita palsu (hoax) dapat diyakini kebenarannya bila terus dibagi secara daring. Terlebih lagi ulah sebagian Netizen yang memodifikasi judul berita serta penggunaan gambar yang cenderung provokatif. Akibatnya seringkali sebuah berita berakhir dengan polemic dimasyarakat. Seperti terjadi pada berita-berita politik dan pemerintahan. Hanya berbekal judul dan sekilas tentang deskripsi berita Netizen cenderung bersikap reaktif dengan segera berkomentar dan berbagi. Tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu.

Perilaku berbagi berita tanpa memperhatikan karakteristik media dan informasi mengindikasikan fenomena buta informasi dikalangan masyarkat kita. Dan fenomena ini harus segera diatasi. Bila tidak polemic akan selalu terjadi dan sangat berpotensi terjadinya disintegrasi dalam kehidupan social bermasyarakat dan berbangsa. Terlebih terkait informasi yang berkaitan dengan SARA.

Istilah buta informasi atau illeterasi informasi secara tradisional diartikan sebagai ketidakmampuan untuk mengakses informasi. Namun dalam masyarakat modern, buta informasi diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang tidak mampu untuk memilah, memahami dan mengevaluasi informasi yang ada. Dengan kata lain, seorang dengan buta informasi tidak memilki kemampuan untuk menggunakan berinformasi secara bijak sehingga sering memberikan informasi yang sepotong-sepotong yang pada akhirnya menimbulkan salah paham.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberantas buta informasi di masyarakat. Pertama, memberi informasi tentang karakteristik media yang menyajikan informasi atau berita. Tujuannya adalah supaya masyarakat dapat menyaring media mana yang menurut mereka dapat dipercaya. Sehingga masyarakat tidak terjebak pada arus utama pemberitaan media (media mainstream). Beberapa hal mempengaruhi keterpercayaan media diantaranya kejelasan tim dan alamat redaksi (editorial) serta integritas media dalam memberikan informasi. Penggunaan tata Bahasa serta ejaan yang baik dan benar dalam pemberitaan juga dapat dijadikan penilaian terhadap kualitas sebuah media. Termasuk juga blog sebagai media berbagi informasi yang bersifat personal. Kejelasan tentang pemilik blog berperan penting dalam meyakinkan pembaca atas informasi yang diberikan selain juga isi posting yang tidak semata-mata copy-paste dari sebuah sumber berita daring lainnya.

Kedua, mengajarkan sikap dewasa berinformasi antara lain bersikap objektif dalam menilai sebuah pemberitaan tanpa emosi. Sikap dewasa berinformasi juga mencakup tata cara mengkritik yang santun. Sehingga penggunaan Bahasa yang mengandung unsur bullying dan menimbulkan ekses negative cenderung dapat dihindari.

Ketiga, pendidikan literasi informasi yang terintegrasi dengan kurikulum sekolah ataupun di universitas. Pendidikan literasi informasi telah diberikan di sekolah-sekolah negara maju, khususnya dalam mempersiapkan generasi yang mampu menggunakan informasi secara tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam bermasyarakat. Di Skotlandia misalnya, pendidikan literasi informasi bertujuan untuk membantu siswa mengatasi masalah informasi yang berlebihan (overload), penggunaan internet yang tidak bijak, memahami dan mengevaluasi informasi, serta menjaga keseimbangan interaksi social di dunia maya dan kehidupan yang nyata. Di level universitas, pendidikan literasi informasi difokuskan pada kemampuan berpikir kritis (critical thinking).

Melalui pendidikan literasi informasi ini diharapkan dapat mengikis fenomena saling berbagi informasi atau pemberitaan yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Kedepannya, masyarakat khususnya Netizen dapat berlaku dewasa terhadap media dan informasi. Dengan memilih, memahami, dan mengevaluasi karakteristik media dan informasi secara baik, maka masyarakat kemudian dapat secara bijak menentukan sebuah keputusan untuk berbagi atau tidak. Dengan demikian, sebuah informasi palsu dan berpotensi memberi pengaruh negative akan dapat hilang dengan sendirinya.

[1] Artikel opini, Sumber: Harian Kabar Priangan, 9 Januari 2015, tersedia pada http://www.kabar-priangan.com/news/detail/16178