Taksonomi Bloom dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Diantara Teori dan Praktek

Taksonomi Bloom dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): Diantara Teori dan Praktek

Ditulis oleh: Herri Mulyono

Bagi guru dan mahasiswa jurusan kependidikan, taksonomi Blook adalah teori pembelajaran yang tidak akan pernah terlewatkan dalam aktivitas belajar mengajar ataupun diskus-diskusi yang dilakukan. Taksonomi Bloom hakekatnya adalah klasifikasi tentang tujuan pembelajaran pada 3 area (domain), yaitu kognitif, afektif dan psikomotor pada tahun 1956 (dalam tulisan ini fokus diarahkan hanya pada domain kognitif). Walaupun kemudian, banyak versi baru yang digunakan untuk merepresentasikan taksonomi Bloom tersebut yang pada hakekatnya “hampir sama”. Perhatikan dua versi taksonomi Bloom dibawah ini:

Perubahan Taksonomi Bloom untuk Domain Kognitif
Sumber asli: http://www.odu.edu/educ/roverbau/Bloom/blooms_taxonomy.htm

Pada doman kognitif seperti yang dilihat diatas, level berfikir terendah adalah mengetahui/knowledge atau dalam versi terbarunya adalah menghafal (mengingat) dan bergerak pada level berfikir yang lebih tinggi mulai dari memahami, aplikasi, analisis, membuat sintesis dan pada tahap level berfikir tertingginya mengevaluasi. Dengan menggunakan taksonomi bloom ini, maka pembelajaran suatu materi pelajaran pada hakekatnya haruslah mampu membawa peningkatkan kualitas berfikir siswa dari sebuah level berfikir yang rendah kepada level berfikir yang lebih tinggi. Sayangnya, untuk banyak kasus desain rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat guru disekolah (ataupun mahasiswa yang akan melaksanakan PPL) kurang memperhatikan hal ini sehingga pembelajaran hanya meliputi aspek “pengajaran” atau transfer materi pelajaran saja tanpa melihat alternatif peningkatan kualitas berfikir (kognitif) siswa.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris misalnya, pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hanya memetakan dua hal, pemetaan kemampuan (skill) dan materi ajar tanpa mempertimbangkan pemetaan peningkatan kualitas berfikir (kognitif) siswa. Pemetaan terlihat bagaimana kemampuan mendengarkan harus selajan dengan kemampuan menulis, atau berbicara. Atau, kemampuan membaca disenergikan dengan kemampuan menulis dan lainnya. Selain itu pemetaan materi terlihat bagaimana sebuah indikator pada wacana reading harus disesuaikan dengan indikator pada materi listening dan sebagainya. Sehingga, klaim yang sering terjadi adalah peningkatan kadar pengetahuan (knowledge) atau menghafal English function, jenis wacana (genre) dan lainnya ketimbang aplikasinya (mengaplikasi pengetahuan tersebut secara nyata). Dampak yang timbul kemudian adalah berkurangnya kemampuan berfikir kritis dikalangan siswa yang berimbas pada berkurangnya kemampuan bersaing dimasa yang akan datang.

Pembelajaran dalam kelas bukanlah selalu “transfer materi ajar” pada level terendah menghafal/mengingat tetapi juga guru sebagai pembelajar harus mampu meningkatkan kulitas berfikir siswa pada level yang lebih tinggi comprehension, application, ataupun pada level anslysis, systhesis dan evaluation. Pemetaan terhadap usaha peningkatan kualitas berfikir siswa haruslah menjadi prioritas utama yang kemudian disinergikan dengan pemetaan skill dan materi ajar. Sehingga pada tahap ini siswa tidak hanya “mengetahui” tentang hal yang disajikan dalam materi ajar, tapi juga mampu berfikir kritis seperti yang dituntut dalam standar isi pendidikan nasional.

Sebagian besar guru telah paham tentang kata kerja operasional yang digunakan dalam menuliskan silabus ataupun RPP dengan menggunakan simbol C1, C2, dan C3. Kemampuan guru untuk menggunakan kata-kata kerja operasional ini mungkin tidak perlu diragukan lagi, karena sebagian besar sudah di latih dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh suku dinas pendidikan, kelompok kerja guru, ataupun musyawarah guru mata pelajaran. Guru telah mampu melakukan evaluasi terhadap silabus dan RPP dengan menggunakan kata kerja operasional tersebut, namun belum mampu memaksimalkan peranan kata kerja operasional untuk peningkatan kualitas berfikir siswa.

Secara sederhana, perancangan RPP untuk meningkatan kualitas berfikir siswa dapat dilakukan dengan memetakan level berfikir. Seperti contohnya pada sebuah rpp pertemuan pertama fokus level berfikirnya adalah knowledge-comprehension-application, lalu kemudian pada pertemuan kedua dan berikutnya dimodifikasi comprehension-application-evaluation dan seterusnya sehingga akitivitas siswa untuk berfikir ter-upgrade dalam seri pembelajaran yang kita buat. Lalu, setelah pemetaan level berfikir telah dilakukan, dilanjutkan dengan pemetaan kemampuan atau materi ajar yang akan disajikan.

Jika pemetaan kemampuan berfikir siswa dilakukan secara berkesinambungan maka siswa pada akhirnya akan mampu untuk memaksimalkan domain kognitifnya. Pada masa yang akan datang tentu berdampak pada peningkatan kualitas berfikir kritis siswa sebagai indikasi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Semoga bermanfaat.

 

(Jika posting ini dirasa bermanfaat mohon di rating, dan di share dengan menggunakan social media dibawah ini)

Advertisements

Simple Way of Teaching English to Young Learner

Teaching English to a very young learner does not mean at school. It can be carried out anywhere as you like to do. It is not necessarily with paper. when children are physically growing than their cognitive, then, physical game would be best alternative for their learning. Below you’ll see Raafi my son, aged 5 and never attend any learning class (school). You may see how English learning is carried out in simple way.

Teknik Pengajaran Speaking/ Conversation

Teknik Pengajaran Speaking/ Conversation

Teknik Cepat Pengajaran Berbicara Bahasa Inggris (Speaking) /Conversation MUDAH dan DIJAMIN dalam 4 Bulan

Oleh: Herri Mulyono

Untuk berbicara mudah berbahasa Inggris, tidak ada yang instan.. semua ada proses nya. Beberapa waktu lalu saya diundang untuk memberikan presentasi tentang teknik pengajaran conversation di Indramayu. Hampir semua pesertanya adalah “lulusan pare” yang terkenal itu. Ketika saya berdialog bagamana cara belajar di kampung pare, saya sedikit tersenyum… “kenapa harus jauh-jauh ke Pare jika anda bisa membuatnya di sekolah anda?” saya katakan kepada peserta pelatihan. “Ikuti pelatihan saya, maka anda akan melihat siswa-siswi anda berbicara bahasa Inggris dengan baik dalam waktu yang tidak lama.”

Benar saja, setelah pelatihan, hampir semua peserta terkejut.. dengan fakta bahwa yang mereka terima selama “nyantren” di pare hanya merupakan dasar teknik penguasaan, bagian terkecil dari materi pelatihan yang saya berikan. Akhirnya, mereka pun sharing banyak hal tentang pengajaran speaking khususnya yang berkaitan dengan conversation.

Pengalaman saya selanjutnya adalah ketika saya diminta menjadi fasilitator (instruktur) pengajaran e-learning kerja sama Dinas Pendidikan dengan Sebuah lembaga terkenal di US. Dalam promosinya, mereka menjelaskan bagian terpenting yang memperlihatkan bagaimana program e-learning tersebut dapat menghasilkan siswa-siswi berbicara dalam bahasa Inggris atau dalam istilah mereka adalah “automaticity” (dapat berbicara secara otomatis setelah belajar)… mmm. cukup mengesankan. …

Rasa ingin tahu saya mengarahkan kepada teori dibalik pembelajaran e-learning tersebut. Tak ayal saya pun sedikit tersipu-sipu, karena teori yang digunakan adalah sama dengan teori yang saya berikan dalam pelatihan,…

Singkatnya, teknik pengajaran conversation yang saya berikan dibagi menjadi 3 tingkatan, … pertama apa yang saya sebut dengan guided speaking, responsive speaking dan productive speaking.

Teknik pertama guided speaking adalah dengan penekanan kepada pronunciation and limited speaking dengan clue-clue atau track yang telah direncanakan terlebih dahulu. Teknik kedua yaitu responsive speaking. ingat, kemampuan berbicara dapat distimulasi dari bacaan (berbahasa Inggris), dan bacaan sangat kaya dengan vocabualary dan struktur bahasa. Dalam teknik kedua ini, kemapuan berbicara siswa muncul dengan stimulasi bacaan ini. Teknik ketiga yaitu productive speaking. Berbicara dengan wacana yang luas dalam teknik ini merupakan tujuan utamanya, tapi, hanya dapat diperoleh apabila siswa telah menguasai kemampua speaking dari teknik pertama dan kedua telah dipamahami dan dikuasai dengan baik.

Ketiga teknik pengajaran tersebut sangat sesuai dengan kondisi kelas kecil ataupun kelas besar, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengajarkan speaking untuk jumlah siswa dengan jumlah 40 dalam sebuah ruang kelas. Ketiga teknik tersebut merupakan hasil penelitian dan observasi yang saya lakukan semenjak tahun 2002, dan saya kembangkan ketika saya mulai mendalami teknik pengajaran speaking ketika mengajarkan mata kuliah TEFL di sebuah universitas di Jakarta. Hasil nya cukup memuaskan, dan rasa puas melihat siswa kita cas cis cus dalam bahasa Inggris.

Untuk informasi lebih lanjut tentang pelatihan ini silahkan hubungi saya:

Herri Mulyono,

Note: terima kasih atas email yang sudah masuk. E-book sedang saya persiapkan dan akan segera saya upload/kirim setelah selesai ISBN dari penerbit. Maaf tidak dapat menjawab email satu persatu